Sandal Raja

2015-03-27_01.02.31[1]

Ketika berkunjung ke Karaton Yogyakarta, saya melihat seluruh abdi dalem bertelanjang kaki. Ketika ditanya, kenapa betelanjang kaki? dijawab hanya Raja yang pantas beralas kaki. Saya jadi teringat kisah awal tentang Sandal Sang Raja.
Begini….
Alkisah suatu ketika seorang raja memutuskan untuk meninjau wilayah kerajaannya. Sang Raja memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru melangkah beberapa meter dari istana, kaki sang Raja tersebut tertusuk duri. Marahlah sang Raja, segera di panggillah seluruh pegawai Kerajaan dan sang Raja memerintahkan agar seluruh jalan dikerajaan dilapisi karpet dari kulit binatang. Seluruh pasukan bersiap untuk berburu, sebelum berangkat tiba-tiba penasihat kerajaan berbisik pada sang raja: “Maaf, baginda. Berapa binatang yang dibunuh? Bukankah lebih arif jika kaki baginda saja yang dibungkus kulit ? “ Sang Raja dengan kearifannya, terdiam dan sadar, kemudian memerintahkan pembatalan perburuan. Konon kabarnya, demianlah asal mula dibuatnya sandal kulit … Serupa dengan kisah sandal kulit itu, begitulah yang sering terjadi pada kita. Kebanyakan dari kita, ingin memusnahkan hal-hal yang menjengkelkan dari luar. Ada karyawan yang yang ‘menjengkelkan’, maka kita sekuat tenaga berusaha menyingkirkan, ada rekan yang tidak sejalan kita anggap sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Seperti halnya kulit yang menutupi kaki sang Raja, kenapa kita tidak menutupi pikiran kita dengan kesadaran dan kesabaran ?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s