Categories
Kisah Inspiratif

Saat Bodoh teriak Bodoh

Dua orang Bos ‘berlomba’ menonjolkan kebodohan sopirnya. Bos A kemudian memanggil sopirnya, “Kevin Aprilio, tolong beli mobil Ferari seri terbaru dengan uang Rp 100 ribu ini”. “Baik Tuan”. Dengan cepat Kevin Aprilio berlalu

Bos A dengan senyum kemenangan, “Tuh lihat sendiri kan betapa bodohnya sopir saya”.

“Ah itu sih belum apa-apa dibanding kebodohan sopirku”, sahut Bos B.

“Tukul, tolong cek apakah saya ada di rumah saat ini”.

“Segera Tuan” sahut Tukul. Diapun segera berlalu.

Dengan tertawa keras Bos B memandang Bos A untuk menunjukkan bahwa dialah yang menang dalam ‘pertandingan kebodohan’ ini.

Kedua sopir kemudian bertemu di jalan. Kevin Aprilio berkata, “Ampun deh Bosku itu sangat tolol”.

“Ah kamu sih belum tahu kalau Bosku jauh lebih tolol dibanding Bosmu”, respon Tukul.

Tidak mau kalah Kevin Aprilio menyambung, “Bayangkan Bosku memberi uang Rp 100 ribu untuk membeli Ferari seri terbaru. Mana mungkin itu ???”. “Masa Bos tidak tahu kalau hari ini hari Minggu. Mana ada show room yang buka sehingga aku bisa membeli mobil Ferari seri terbaru ?”.

“Iya.. ya benar juga. Tapi dengar dulu ceritaku sebelum kamu berpikir bahwa Bosmulah yang paling bodoh”. “Masa Bosku minta tolong aku untuk mengecek apakah dia yang saat ini bersama Bosmu di sini, ada di rumah saat ini ?. Aneh sekali”. “Kan Bosku punya HP, kenapa dia tidak langsung telpon ke rumah untuk menanyakan apakah dia ada di rumah atau tidak saat ini?”.

Mungkin kita akan tersenyum lebar membaca cerita di atas sambil berpikir apakah benar ada orang sebodoh Sono dan Sunu, kedua sopir tersebut. Dalam dunia nyata, kita sangat dekat dengan orang-orang ‘bodoh’ yang teriak ‘bodoh’ seperti kedua sopir yang mengatakan kedua Bos mereka bodoh tanpa mereka mengerti bahwa sebenarnya mereka ‘lebih bodoh’. Bahkan, tanpa bertendensi apapun, jangan-jangan kitapun termasuk kelompok ‘bodoh teriak bodoh’ ini.

Banyak orang yang terbiasa mencela orang lain terutama karena kesalahan dan kekurangan orang lain tersebut. Tidak jarang celaan itu muncul dari pikiran iri, dengki, takut kalah, dan lain-lain penyakit pikiran yang banyak menghinggapi orang jaman sekarang. Padahal setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada keterbatasan dalam diri setiap orang. Tidak ada yang sempurna segala-galanya. Apakah kita memiliki hak untuk mengatakan orang lain bodoh, selalu salah, jelek, dan lain-lain yang tidak baik ? Bukankah kita sendiri pasti pernah melakukan kesalahan dan ‘kebodohan’ sewaktu kita belum ‘sepintar’ saat ini ?

Bos A dan B juga termasuk kelompok ‘bodoh teriak bodoh’ karena mempertandingkan kebodohan sopirnya. Mereka tidak sadar bahwa merekapun dikatakan bodoh oleh kedua sopir yang dibodoh-bodohi oleh mereka walaupun pemberian ‘cap bodoh’ oleh kedua sopir kepada kedua Bos dalam konteks yang berbeda. Kita perlu sering ‘berkaca’ dan mengevaluasi diri untuk terus melakukan perbaikan terhadap diri sendiri baik dalam tataran pemahaman maupun perbuatan langsung melalui pikiran, ucapan dan perbuatan. Jangan habiskan waktu kita untuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain. Manfaatkan waktu tersebut untuk mengolah diri menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kita menjadi orang-orang yang punya daya saing tinggi untuk berkompetisi dalam dunia bisnis atau profesional, dan sosial kemasyarakatan.

Sehingga, kita tidak akan terperosok ke dalam kelompok ‘bodoh teriak bodoh’ dan bisa menjadi orang-orang yang ‘pintar’, yang tidak mudah memberikan klaim atau label (terutama ‘bodoh’) kepada orang lain.

Categories
Kisah Inspiratif Kisah Perjalanan

Kitalah Pengemis Itu

Seperti sudah menjadi kebiasaan rutin, aku selalu menaruh koin-koin di mobilku. Siang itu, sebelum aku jalan aku cek apakah masih cukup persediaan koin hingga bolak-balik pergi pulang. Setelah memastikan cukup, barulah aku jalan. Tak terhitung berapa lampu merah yang kulewati dan berapa koin yang telah berpindah tangan. Hingga di lampu merah yang ke sekian kali, dari jauh kulihat seorang bapak tua sudah menyambutku dengan anggukan kepala, kemudian mendekat dan memainkan untaian tutup botol. Kuulurkan sekeping koin dan bapak tua itu menerimanya dengan senyum, kemudian jutaan doa terlontar dari bibirnya. Sejenak aku terdiam, tercekat tanpa kata dan tanpa sadar tanganku merogoh saku mengulurkan semua yang tersisa yang ada disana. Senyum bapak tua semakin mengembang dan akupun ikut tersenyum, tak lama lampu hijau memaksaku berlalu.

Sepanjang jalan, kurenungi. Seandainya kita adalah pengemis yang meminta belas kasih pada Yang Maha Kaya, akankah kita mampu bersikap seperti bapak tua ? diberi rizqi ‘hanya’ sekeping koin tetap bersyukur bahkan memberi ‘bonus’ doa yang tulus.. diberikan yang banyak senyum makin mengembang.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS: Ibrahim:7)

dan bapak tua itu telah membuktikannya, dengan membuatku ‘terhipnotis’ untuk merogoh saku dan mengeluarkan semua yang ada disana. Kesyukuran, senyum dan lontaran doa-doa bapak tua itulah yang ‘menghipnotisku’ dan aku bahagia karenanya. Andai bapak tua itu, bermuka kecut karena ‘hanya’ menerima sekeping koin, atau justru malah mengumpat tentulah aku tak sudi untuk merogoh saku lagi, bahkan bukan tidak mungkin aku akan balas mengumpat dengan lebih pedas : “dasar pengemis tak tahu diuntung ! diberi malah mengumpat !!”

Ah..bapak tua, engkau menyadarkanku bahwa sesungguhnya akulah pengemis itu, kitalah pengemis di hadapan Yang Maha Kaya. Sekecil apapun pemberian-Nya, tentulah Dia akan tersenyum manakala kita terima pemberian-Nya dengan senyum kesyukuran.

Sudahkah kita bersyukur hari ini ?

Categories
Kisah Inspiratif

ketika LDR harus memilih

20150416_201800[1]
ATM aja bersama, masa kita enggak ?
Hidup adalah pilihan, kita hiduppun karena kita juga TERPILIH, bahkan tidak memilihpun merupakan pilihan. Terkadang memilih begitu sulit. Tapi hidup mesti berjalan, dan pada akhirnya akan memilihkan pilihan-pilihan untuk kita. Jika pilihan itu berupa kehilangan, engkau akan memilih apa ? Kehilangan SESUATU atau kehilangan SESEORANG ? pilihan yang mudah… aku akan memilih kehilangan sesuatu, sebab ketika kehilangan SESUATU aku yakin ada SESEORANG yang menghiburku, menguatkanku dan bersama-sama kita akan menemukan SESUATU yang baru. Sedangkan jika memilih kehilangan SESEORANG, bagiku maka SESUATU itu akan menjadi tak bermakna lagi, sebab tak ada SESEORANG disana… SESUATU itu bisa berupa karir, jabatan atau pekerjaan. Dan SESEORANG itu bisa jadi keluarga, kekasih atau pasangan hidup kita.. dan aku memilih kamu!

Categories
Kisah Inspiratif

Penebang Pohon dan Kapak 212

Tantangan dalam bekerja terus meningkat, bahkan seorang teman yang menjadi manager penjualan mengatakan bahwa saat ini terpaksa menggunakan “jurus mabuk”, karena sering kali sudah melakukan apa yang benar menurut teori namun belum berhasil juga. Dalam situasi ketak menentuan itu kuncinya adalah bagaimana stamina orang tersebut. Apa yang menyebabkan stamina seseorang tinggi dan yang lain rendah ?. Mari kita belajar dari crita ini
Alkisah ada seorang penebang pohon yang sangat kuat. Dia melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat baik. Karenanya sang penebang pohon memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.
Sang majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya. Hari pertama sang penebang pohon berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, “Bagus, bekerjalah seperti itu!”
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari sang penebang pohon bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon. Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon.
Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit. “Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku”, pikir penebang pohon itu.
Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi. “Kapan saat terakhir kau mengasah kapak?” sang majikan bertanya. “Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sangat sibuk mengapak pohon,” katanya.

Kawans, kehidupan kita sama seperti itu. Seringkali kita sangat sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak. “Di masa sekarang ini, banyak orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi mereka lebih tidak berbahagia dari sebelumnya. Mengapa? Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam? Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras. Tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting dalam hidup, seperti kehidupan pribadi, menyediakan waktu untuk membaca, dan lain sebagainya.
Kita semua membutuhkan waktu untuk tenang, untuk berpikir dan merenung, untuk belajar dan bertumbuh. Bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas.
Jadi mulailah dari sekarang, memikirkan cara bekerja lebih efektif dan menambahkan banyak nilai ke dalamnya.

Categories
Kisah Inspiratif

Hadiah Sang Kaisar

Jika kenal darimana berasal, PASTI tahu alamat pulang.
Jika kenal darimana berasal, PASTI tahu alamat pulang.

Al kisah, setelah diselamatkan dalam sebuah peperangan, seorang Kaisar berterima kasih pada salah seorang prajuritnya, dan berkata apabila prajuritnya itu bisa naik kuda dan menjelajahi daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya itu sebagai hadiah. Kontan si prajurit itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.

Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin. Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Dan memang dia telah mendapatkan tanah yang luas, tapi itu tidak menghentikannya untuk terus memacu kudanya.

Hingga akhirnya, kudanya mati tersungkur karena kelelahan, dan ia terpelanting , kelelahan dan hampir mati. Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, “Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat, dan aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri.”

Begitulah kehidupan kita… Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri. Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan sekitar kita, hal-hal yang ingin kita lakukan, dan bahkan kehidupan spiritual kita. Seringkali jiwa kita kelaparan tanpa makanan (baca: siraman rohani). Dan ketika kita menoleh kebelakang, semuanya menjadi terlambat. Sesungguhnya kita tidak membutuhkan yang sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu atas semua yang tidak sempat kita lakukan.

Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita mati besok. Kita semua saat ini sedang antri didepan pintu kematian, tapi kita tak pernah tahu berapa nomor antrian kita.

Hidup ini bukan untuk hidup, tetapi untuk yang Maha Hidup (Al Hayy). Hidup bukan untuk mati, tetapi justru mati itulah untuk hidup. Oleh karena itu jangan takut mati. Jangan lupa mati. Jangan cari mati, tetapi rindukanlah mati. Karena mati pintu berjumpa denganNYA.

Belajarlah untuk menghormati dan menikmati kehidupan, dan yang terutama:
Mengetahui apa tujuan UTAMA kita di kehidupan ini. Seperti penyelam mutiara, yang dibekali sebuah tabung oksigen untuk menyelam, kemudian sang Majikan memerintahkan kita untuk terjun ke bawah laut dan mencari mutiara. Namun kita seringkali terpesona dengan keindahan bawah laut yang menakjubkan. Dan sampai- sampai pesona keindahan itu memalingkan kita dari tujuan utama kita. Hingga akhirnya kita sadar tabung oksigen mulai habis, dan saatnya kita kembali ke daratan untuk menghadap Sang Majikan. Apakah mutiara itu sudah kita dapatkan? Ataukah keindahan laut telah melenakan kita ?

Categories
Kisah Inspiratif

Kisah Pamela Savitri

Salah satu sumber kekecewaan kita adalah ketika kita membandingkan dengan orang lain, teman kuliah yang lebih sukses, karyawan setingkat kita di perusahaan lain yang mendapat fasilitas lebih baik, rekan lain yang perusahaannya “kelihatan” dikelola lebih profesional dan masih banyak lagi.  Akhirnya kita merasa menjadi orang yang paling malang, dan semangat  dalam menjalani hidup. Padahal kata orangtua, urip iku wang sinawang. Hidup itu tergantung sudut pandang orang yang melihat.

Ada kisah menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. 

Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Pamela, Pamela…”
Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini.

Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh seorang gadis yang bernama Pamela Savitri.”

Si pengunjung manggut -mangggut, tetapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat seorang penghuninya juga terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak , ” Pamela, Pamela  !!!.”

Pengunjung inipun bertanya lagi ke Dokter, “Orang ini juga ditolak cintanya oleh Pamela ?” tanya pengunjung itu keheranan.

Dokter kemudian menjawab, “Tidak, justru dialah yang akhirnya menikah dengan Pamela, tetapi ternyata banyak ketidak cocokan dan mereka bertengkar setiap hari, akhirnya keluarganya berantakan, frustasi dan gila juga…. “.

Kawans, Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Kita telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tetapi Kita masih merasa kurang. Pikiran Kita dipenuhi berbagai keinginan. Kita begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya…..

Tapi anehnya, ketika keinginan itu sudah didapatkan,kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tidak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang kaya adalah orang yang dapat
menikmati apapun yang mereka miliki.

Categories
Kisah Inspiratif

Merebus Katak | boiling Frog

sumber gambar: http://www.inflexion-point.com/
sumber gambar:
http://www.inflexion-point.com/

Sebuah perusahaan besar yang sebelumnya dikagumi oleh semua orang, kadang-kadang terpuruk dan pelan-pelan tapi pasti menuju ke kebangkrutannya. Mengapa hal ini terjadi? bagaimana supaya perusahaan kita tidak mengalami hal yang serupa?
Mari kita belajar dari cerita lama tentang cara merebus katak berikut ini….
Seorang direktur yang kinerja perusahaannya memburuk pada puncak kebingungannya bertemu dengan seniornya yang sudah pensiun namun tetap dihormati oleh semua karyawan di perusahaan itu.
Dalam percakapan melalui telepon ketika membuat janji, maka mantan direktur ini mengatakan “Sebagai syaratnya bawalah dua katak hidup, ketika kamu menemuiku besok pagi” katanya. Dengan perasaan heran sang direktur bergumam “Kok seperti ke dukun saja, bawa-bawa syarat segala”.
Pagi itu bertemulah direktur ini dengan seniornya yang sudah duduk menunggu di taman belakang rumahnya, disampingnya ada dua buah panci berisi air. Setelah direktur itu mengemukakan kondisi terakhir perusahaannya dengan berbagai masalahnya, maka dia meminta nasehat apa yang harus dilakukannya.
“Panci pertama itu berisi air panas, masukkan katak itu kedalamnya”, maka ketika dimasukkan melompatlah katak itu sekuat tenaga dari dalam panci, maka selamatlah dia.
“Sekarang masukkan katak itu ke panci yang berisi air dingin itu”, maka tentu saja katak kedua ini tenang-tenang saja. “Sekarang taruh panci itu di tungku yang berapi kecil itu” lanjutnya. Maka dengan bertambahnya suhu air yang pelan-pelan itu tidak membuat katak segera meloncat, dia tetap didalam panci itu, sehingga ketika air sudah panas, semuanya sudah terlambat, dia tidak memiliki cukup tenaga untuk melompat, dan matilah katak itu.
“Analisalah apa yang baru saja terjadi, pulanglah dan segera lakukan perbaikan” katanya dengan datar.
Kawans, sekelompok orang di perusahaan yang mengalami kinerja yang semakin memburuk, kadang kurang menyadari kondisinya, mereka tidak segera membuat tindakan-tindakan segera untuk mengatasi kondisi itu, dan ketika mereka menyadarinya semua sudah serba terlambat, dan habislah riwayat perusahaan itu.

Categories
Kisah Inspiratif

Rahasia Telur Mata Sapi Ibu

telur

Hari ini istriku membuatkan sarapan pagi telur mata sapi diiringi ucapan : “Maaf ya, Yah. Mam hari ini tidak masak..”

Aku tersenyum, “Gak papa, mam. Ayah paling suka telur mata sapi”

Aku menyantap telur sapi dengan ingatan melayang ke masa kecilku dulu. Kami empat bersaudara dengan selisih usia masing-masing  2 tahun saja, terbayang betapa repot dan hebohnya ibu dalam mengurus kami. Kakak sulungku usianya 10 tahun dan masih duduk di kelas 4 SD, aku sendiri anak nomor dua dan duduk di kelas 2 SD, sedangkan adikku masih TK serta sibungsu baru berumur 4 tahun.

Semasa SD dulu, selain sebagai hidangan istimewa di rumah, ibu juga membekali kami dengan telur untuk dimakan di sekolah. Kadang ibu membuatkan telur mata sapi, kadang dadar dan kadangkal juga telur orak orik yang kami sebut dengan ‘telur kacau’ karena bentuknya yang tak karuan. Telur adalah menu termewah kami, selain menu harian kering tempe dan tahu bacem.

Seringkali saat istirahat sekolah, kami sembunyi-sembunyi memakan bekal kami, kami merasa bekal kami tak layak tampil diantara bekal teman-teman. Bekal kami rasanya seperti seorang putri berwajah pucat yang berada di pesta mewah para bangsawan. Tak guna rasanya berwajah cantik jelita, jika penampilannya pucat. Tidak menarik. Tak guna rasanya Ibu menjelaskan manfaat telur bagi tubuh dan otak. Kami bosan dengan bekal sekolah yang tak pernah berganti.

Suatu hari, ketika saat istirahat sekolah tiba, kakak terlambat menghampiri kami untuk makan di ‘persembunyian’. Terpaksa kali ini, kami harus makan di tengah teman-teman yang lain, terpaksa hari ini ‘si putri pucat pasi’ harus tampil di tengah tengah pesta meriah para bangsawan. Kami melihat bekal teman beraneka rupa, tampilannya elok mearik mata…hmmm…rasanya pasti juga nikmat. Diantara bekal yang dibawa teman-teman tersebut, kami melihat seorang teman membawa bekal ayam goreng tepung dengan saus merah meyala, kelihatanya enak sekali. Kami baru tahu ada ayam goreng dibungkus tepung seperti roti. Ah bolehlah sekali waktu kami berganti menu, kamipun ingin bisa menikmati Ayam goreng tepung seperti teman kami itu.

Esok harinya, saat ibu menyiapkan bekal kami dan lagi-lagi telur! Kami beranikan minta ke ibu untuk berganti menu. Kami ceritakan betapa menariknya ayam goreng yang dibungkus tepung seperti roti itu kepada ibu. Ibu menyimak cerita kami sambil tersenyum, kemudian berkata:

“kalian tahu kan ayam asalnya darimana? Dari telur bukan? Nah.. sekarang coba perhatikan ibu, kalau kalian pilih ayam, kalian hanya kan dapat sepotong kecil paha, sepotong kecil sayap atau malah sesuwir daging ayam karena harus dibagi berempat. Tapi, jika kalian pilih telur ayam, kalian akan dapat semuanya. Ingat, didalam telur ini ada kepala ayam, ada paha ayam, ada sayap ayam juga, semua lengkap. Nah…satu telur mata sapi ini sama nilainya dengan 1 ingkung ayam. Benar tidak ?”

Amboi….sungguh pintar ibuku ini. Kamipun ‘terpaksa’ manggut-manggut menyetujui pendapat ibu tersebut. Kami masukkan bekal kami ke dalam tas dan kami berangkat dengan keyakinan penuh bahwa bekal sekolah kami pagi ini adalah satu ekor ingkung ayam.

Bertahun kemudian… setelah masing-masing dari kami memiliki anak, kami memahami sepenuhnya bahwa 3 orang anak kecil usia SD ditambah dengan seorang bayi akan menyebabkan terguncangnya stabilitas ekonomi keluarga jika memaksakan diri menikmati Ayam goreng tepung roti. Kami berasal dari keluarga sederhana dan hanya mengandalkan Ayah sebagai penopang ekonomi keluarga, tapi kami memiliki ibu yang pintar. Ibu yang memiliki segalanya, kecuali satu hal yaitu RASA LELAH.

“Ayah…” suara istriku, menyadarkanku dari lamunan. Kuseka ujung mataku yang mulai tergenang air mata.

Ibu, tak banyak yang bisa kami lakukan untukmu, selain harapan dan doa:

Ibu, semoga kelak kami bisa menjawab pintamu, yang selalu kau hamparkan di atas sajadah di tiap sepertiga malam.

Categories
Kisah Inspiratif

7 Keajaiban Dunia (Seven Wonders)

Candi Sukuh, Karanganyar.
Candi Sukuh, Karanganyar.

Sekelompok siswa pada pelajaran geografi sedang mempelajari “Tujuh Keajaiban Dunia.” Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan “Tujuh Keajaiban Dunia” saat ini. Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi;

1) Piramida

2) Taj Mahal

3) Tembok Besar Cina

4) One Direction

5) Borobudur

6) Machu Pichu Peru

7) Colloseum di Roma

Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas jawabannya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya. Gadis pendiam itu menjawab, “Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya.” Sang guru berkata, “Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bias membantu memilihnya.”

Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca:

“Saya pikir, “Tujuh Keajaiban Dunia” adalah:

1) Bisa melihat,

2) Bisa mendengar,

3) Bisa menyentuh,

4) Bisa menyayangi,

Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan,

5) Bisa merasakan,

6) Bisa tertawa,

7) dan bisa mencintai

Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya “keajaiban”. Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita menyebutnya sebagai “biasa”. Semoga kita hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul betul ajaib dalam kehidupan kita.

Selamat hari SENIN! Jadikan hari ini tidak ngeboSENIN!

Categories
Mantra Cinta

CINTA YANG AGUNG

loroblonyo

Adalah ketika kamu menitikkan air mata

dan MASIH peduli terhadapnya..

Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH

menunggunya dengan setia..

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain

dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku

turut berbahagia untukmu’

Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu…

Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya

dan terbang ke alam bebas LAGI ..

Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan

kehilangannya.

tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati

bersamanya…

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu

menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika

mereka jatuh.

(Kahlil Gibran)

Ketika pulang ke Yogya, seperti biasa saya memilih naik bis ekonomi. Entah kenapa saya selalu menikmati perjalanan pulang dengan bis ini, banyak pedagang, pengamen dan aneka rupa bau-bauan… 🙂 hanya satu hal yang tidak nyaman buat saya: ASAP ROKOK !
Dari sekian banyak rombongan pengamen yang hilir mudik beraksi, satu pengamen menarik perhatian saya. Dengan bermodal harmonika, dia berpuisi. Kalil Gibran pula! dan di akhir penampilan dia membacakan sebuah cerita, tentang cinta dan waktu. Cerita ini seringkali saya baca di milis-milis, namun entah kenapa menjadi berbeda saat itu. Atau karena saya hendak pulang dan menemui separuh hati saya ? Entahlah…. yang pasti, hingga jari saya memencet keyboard ini. Saya masih terkesan dengan cerita yang dibawakan pengamen itu.

Ceritanya begini:
Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak : ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan

karena ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai dan mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. ”Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta.

”Aduh! Maaf, Cinta!” kata Kekayaan.

“Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini”.

Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya.

“Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak Cinta.

Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan.

“Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta

“Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini”, sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan.

”Oh, Kesedihan. Bawalah aku bersamamu”, kata Cinta.

”Maaf Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja…” kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa. Ia merasakan air semakin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara.

”Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!”

Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu.

”Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu” kata orang itu.

”Tapi mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku” tanya Cinta heran.

”Sebab” kata orang itu ”Hanya Waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu…”

Setiap kali, mengingat cerita ini. Saya selalu ingat bahwa “LIFE and TIME are 2 great teachers…

LIFE teaches us the use of TIME and TIME teaches us the value of LIFE”

dan sungguh, setelah sekian lama melewatkan waktu bersama. Semakin yakin dan mengerti bahwa aku makin cinta.

I Love You…