Kisah Ubin dan Patung Marmer

Kawans, apakah kita menyadari bahwa karier itu, seperti juga hidup kita terbagi dalam beberapa tahapan, mulai tahap adaptasi, belajar, mencoba, dan kemudian membuktikan, bila kita berhasil melewati fase itu maka kita akan mengenyam buahnya. Tentu pada tahap-tahap pertama ini, biasanya kita lalui dengan menyakitkan, bersiaplah idealisme kita dihempaskan oleh lingkungan, dan niat baik kita dicurigai dan dicemooh, bila saat ini anda sedang mengalaminya mari kita belajar dari kisah ini.

Ditengah malam ruangan museum itu sangat lengang. Tiba-tiba keheningan pagi dipecahkan oleh suara keluhan; “Sungguh tidak adil, ini sungguh tidak adil !” terdengar ubin Marmer bicara.

“Mengapa engkau berkata demikian, sahabatku ?” Tanya sang patung Marmer.

“Kita berasal dari bukit yang sama, kita juga dibuat oleh pemahat yang sama, tetapi mengapa nasib kita jauh berbeda. Engkau disana tampak begitu indah, dikagumi dan dibicarakan banyak orang, sementara aku, harus menerima nasib sebagai ubin batu disini. Ini tidak adil !” ujar ubin Marmer dengan emosi.

“Oh, itu rupanya”, kata sang patung. “Ingatkah engkau pada pemahat kita ?”

“Tentu saja, aku tak akan lupa pada pemahat sialan itu. Ia mengambilku dari tempat tinggalku, ia gunakan pahat dan palu padaku untuk membuatku menderita. Sungguh sakit, aku tak terima diperlakukan begitu. Aku melawan dan terus melawan, aku tak mau ia mengubahku sesukanya.  Enak saja, sampai kapanpun aku tak mau mengikuti kehendaknya” tukas ubin marmer masih emosi.

“Sahabatku”, ujar sang patung marmer lembut, “Itulah yang membedakan kita. Ketika sang pemahat mulai menggunakan pahatnya padaku, aku yakin bahwa sang pemahat punya maksud baik untukku. Aku bertahan atas segala derita yang kualami, aku rela untuk menerima cukilan demi cukilan pahatnya, aku tidak meyerah dan bisa menerima segala proses yang dilakukannya padaku sehingga akhirnya aku menjadi seperti sekarang, sebuah mahakarya.”

“Sementara engkau, engkau terus menolak dan melawan, engkau bersikap negatif terhadap perubahan. Engkau tidak mau mengerti maksud baik sang pemahat, engkau mudah menyerah dan patah atas tempaan, sehingga hal terbaik yang bisa dilakukan hanyalah menjadikanmu ubin”. Ujar patung Marmer kembali.

Mendengar ini, sang ubin pun terdiam. Sang patung kemudian melanjutkan;

“Oleh karena itu, janganlah engkau bicara soal ketidak adilan. Janganlah engkau melihat seakan nasib baik hanya datang kepada yang lain tapi tidak kepadamu.

Janganlah engkau menyalahkan sang pemahat. Salahkan dirimu sendiri,  kalau sekarang engkau diabaikan, tidak dianggap penting dan diinjak-injak orang”.

Kawans,  ketika kita ditempa dan dipahat melalui pelbagai cara, dan perlakuan, sikap kita terhadap hal itu sangat menentukan, apakah kita akan menjadi suatu mahakarya atau hanya sepetak ubin.

Besikaplah positif ketika kita sedang dibentuk, maka kualitas diri kita akan meningkat dan keberhasilan telah menunggu kita.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s