Kita dan Kisah Anak Beruang

Dalam kehidupan, pasti kita pernah menghadapi situasi terpepet, dimana karena keteledoran kita maka terjadi kesalahan, dan ketika kita tahu besarnya dampak kesalahan itu maka terkadang kita mencoba cuci tangan dan mencari orang lain sebagai kambing hitamnya. Mari kita belajar dari kisah ini.

Seekor anak beruang selalu melihat sesuatu dari kacamata yang buruk dan selalu mencari-cari kesalahan, ia akan mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, maka ia menyalahkan teman dan orangtuanya.

Pada suatu hari, anak beruang berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya.
“Wah, madu lebah itu pasti sangat manis. Aku akan mengambilnya. Aku akan mengusir lebah-lebah itu !”
Ia pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras. Ribuan lebah merasa terusik dan menyerang anak beruang. Melihat binatang kecil yang begitu banyak, anak beruang lari terbirit-birit. Lebah-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Satu …dua … tiga, lebah-lebah menghajar dengan sengatan. “Aduh…tolong …!” Byur!! Anak beruang menceburkan diri kesungai. Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pergi meninggalkan anak beruang yang kesakitan.
“Mengapa Ayah tidak menolongku ? Jika Ayah sayang padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku. Semua ini salah Ayah !” Ayah beruang diam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih. “Anakku,apa yang kamu lihat dari kertas ini? Itu hanya kertas putih, tidak ada gambarnya,” jawab anak beruang. Kemudian, ayah beruang mencoret kertas putih dengan sebuah titik berwarna hitam. “Apa yang kamu lihat dari kertas putih ini ? Ada gambar titik hitam di kertas putih itu ! Anakku, mengapa kamu hanya rmelihat satu titik hitam padakertas putih ini ? Padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah ! Padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu.”
Ayah beruang berjalan pergi meninggalkan anaknya yang duduk termenung.

Kawan, mari kita belajar mengoreksi diri sendiri sebelum kita menyalahkan orang lain. Jangan hanya melihat sisi buruk suatu masalah, tetapi kita perlu juga melihat sisi baiknya.
Sebagai pemimpin tanpa kita sadari kebiasaan-kebiasaan kita akan menjadi standard bagi anggota tim kita, Bayangkan bila sebagian besar anggota tim memiliki kebiasaan saling menyalahkan seperti itu.
Untuk itu berhentilah menyalahkan orang lain, Evaluasi diri dan kemungkinan perbaikannya,karena dengan cara itulah pertumbuhan diri kita dimulai.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s