Categories
Kisah Inspiratif

Manusia Sempurna

2121b2cd-f253-40e2-a44c-d6d9c2eef971

 

Ini kisah perjumpaan dua orang sahabat yang sudah puluhan tahun terpisahkan hidupnya. Mereka kangen-kangenan, ngobrol ramai sambil minum kopi disebuah kafe. Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.

‘Ngomong-ngomong, mengapa sampai sekarang kamu belum juga menikah?’ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang membujang.
‘Sejujurnya sampai saat ini saya terus mencari wanita yang sempurna.
Itulah sebabnya saya masih melajang. Dulu di Bandung, saya berjumpa dengan seorang gadis cantik yang amat pintar. Saya pikir ini adalah wanita ideal yang cocok untuk menjadi istriku. Namun ternyata di masa pacaran ketahuan bahwa ia sangat sombong. Hubungan kami putus sampai di situ.

‘Di Jakarta, saya ketemu seorang wanita rupawan yang ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama, aku kasmaran. Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun ternyata belakangan saya ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab.

‘Saya terus berupaya mencari. Namun selalu saya temukan kelemahan dan kekurangan pada wanita yang saya taksir. Sampai pada suatu hari, saya bersua wanita ideal yang selama ini saya dambakan. Ia demikian cantik, pintar,baik hati, dermawan, dan suka humor. Saya pikir, inilah pendamping hidup yang dikirim Tuhan.’

‘Lantas,’ sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan, ‘Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak segera meminangnya?’

Yang ditanya diam sejenak. Suasana hening. Akhirnya dengan suara lirih, sang bujangan menjawab, ‘Baru belakangan aku ketahui bahwa ia juga sedang mencari pria yang sempurna.’
………..

Jika kita terus mencari, mungkin kita tidak akan pernah ketemu…. Kebahagiaan bukanlah kemampuan kita untuk menerima setiap kelebihan (baca: keunggulan) pasangan kita, tapi kemampuan untuk menerima setiap kekurangan yang ada. Pasangan ibarat pakaian yang menutut aurat kekurangan kita, yang melindungi dari sengatan cercaan dan memberikan kehangatan dari dinginnya cibiran. Saling menerima dan melengkapi adalah salah satu jalan menuju kesempurnaan. 

Categories
Kisah Inspiratif

Payung Pemimpin

hujan bulan mei

Pagi-pagi, rintik hujan telah datang lagi. Di depan rumah…ibu-ibu berpayung mengantar anaknya sekolah. Di Perumahan yang saya tempati, mungkin payung sudah menjadi bagian dari ‘sembako’ maklum sudah gak ada pohon pisang lagi… kalo ada pohon pisang mungkin bias jadi ‘memori daun pisang’ [dangdut banget ya.. :D]
Payung, memiliki nilai dan tempat tersendiri buat saya. Bukan karena saya penjual payung atau tukang ojek payung…. Tapi payung adalah symbol kepemimpinan. Demikian yang pernah diceritakan Guru saya.
Tugas payung yang utama adalah memberikan perlindungan, pengayoman dan kenyamanan pada yang ada dibawahnya [bawahannya].

Hujan pagi ini, juga menjadi saksi betapa payung harus siap menerima guyuran hujan entah rintik, lebat ataupun berubah jadi panas. Payung juga mesti bersiap bila tugasnya itu dianggap biasa-biasa saja, misalnya saat hujan kita berada dibawah payung dan kita tidak kena hujan, maka kita merasa sebagai hal yang biasa-biasa saja bukan hal yang luar biasa. Begitulah pemimpin, sudah menjalankan amanah kepemimpinannya maka bawahannya akan memandang hal yang biasa saja. Tapi bayangkan, bila pada payung kita itu terdapat lubang kecil sebesar paku, dan air menetes melalui lubang itu. Ya.. kita akan mengatakan payungnya rusak, tidak berguna, perlu diganti. Padahal lubang itu tak ada 1 % dari keseluruhan payung. Begitupun pemimpin, sedikit saja “berlubang” atau ada cacat maka akan dikatakan rusak, tak berguna bila perlu diganti !
Karena itu, pesan Guru saya, pemimpin mesti tahu diri dan ambeg parama arta. Tak perlu “menonjolkan” hal-hal [keberhasilan] saat memimpin, karena bawahan akan memandangnya biasa-biasa saja. Tak perlu mengeluh dan minta dikasihani: saya ini pemimpin kalian, saya sudah memberi yang terbaik untuk kalian, memberikan pengayoman sedang saya dan keluarga justru jadi sasaran ancaman pembunuhan, kalian tidur nyenyak saya kurang tidur memikirkan kehidupan kalian, kalian berkumpul dengan keluarga saya masih rapat membahas nasib kalian. Kurang apa saya ? Jika anda pemimpin, jangan heran jika bawahan anda akan berkata: ah…biasa saja. Lah…sampeyan kan pemimpin.

Nah…lo,

Sekarang, jika payung kita berlubang [pemimpin kita memiliki kekurangan], bawahan kita akan mengkritik habis, minimal mereka akan kasak kusuk: pemimpin kita tuh.. makannya aja banyak, kerjanya NOL besar, omongnya besar sebesar badannya tapi lamban dan gak ngerti apa-apa !

Dan anda sebagai pemimpin mendengar kasak kusuk itu, anda tentu akan mengelus dada dan berkata: kurang apa saya ? saya sudah berikan seluruh hidup saya untuk kalian, dan kalian bersikap seperti itu?

Dan lagi-lagi, anak buah anda akan berkata: biasa ae… Lah, sampeyan kan pemimpin.

Mungkin langkah bijak adalah, anda menyadari adanya lubang paku pada payung anda dan menambalnya semampu anda. Karena jika anda tidak segera menyadari lubang itu, dan sibuk meminta belas kasihan dengan seribu macam pembelaan, bawahan anda akan berkata: Lah…sampeyan kan pemimpin. Biasa ajalah…

Categories
Kisah Inspiratif

Kenapa derita belum beranjak ?

Seorang Murid bertanya kepada Gurunya, kenapa penderitaan belum beranjak darinya sedang dia sudah mendekat ke Tuhan.

Kemudian, Sang Guru berkata:

“Jika kau mendekat ke Tuhan hanya saat sedih dan menderita, bisa jadi kau akan makin sering menderita.”

“Mengapa, Tuan Guru? Apakah Dia tak mencintaiku?”, tanya Murid.

Sang Guru menjawab: “Justru karena Dia cinta dan sangat merindukanmu, sementara cara untuk membuatmu mendekat adalah dng memberimu derita.”

Murid: “Jadi sebaiknya, aku mendekat pada-Nya hanya di saat bahagia? “

Guru: “Itu lebih baik, tetapi yg terbaik, mendekatlah pada setiap keadaan”

Murid: “Jika begitu, aku akan lebih sering bahagia atau menderita? “

Guru: “Jika selalu dekat pada-Nya, segala perasaan akan takluk kepadamu. Kedekatanmu kepadaNYA mengalahkan segalanya”

 

Sang murid terdiam.