Payung Pemimpin

hujan bulan mei

Pagi-pagi, rintik hujan telah datang lagi. Di depan rumah…ibu-ibu berpayung mengantar anaknya sekolah. Di Perumahan yang saya tempati, mungkin payung sudah menjadi bagian dari ‘sembako’ maklum sudah gak ada pohon pisang lagi… kalo ada pohon pisang mungkin bias jadi ‘memori daun pisang’ [dangdut banget ya.. :D]
Payung, memiliki nilai dan tempat tersendiri buat saya. Bukan karena saya penjual payung atau tukang ojek payung…. Tapi payung adalah symbol kepemimpinan. Demikian yang pernah diceritakan Guru saya.
Tugas payung yang utama adalah memberikan perlindungan, pengayoman dan kenyamanan pada yang ada dibawahnya [bawahannya].

Hujan pagi ini, juga menjadi saksi betapa payung harus siap menerima guyuran hujan entah rintik, lebat ataupun berubah jadi panas. Payung juga mesti bersiap bila tugasnya itu dianggap biasa-biasa saja, misalnya saat hujan kita berada dibawah payung dan kita tidak kena hujan, maka kita merasa sebagai hal yang biasa-biasa saja bukan hal yang luar biasa. Begitulah pemimpin, sudah menjalankan amanah kepemimpinannya maka bawahannya akan memandang hal yang biasa saja. Tapi bayangkan, bila pada payung kita itu terdapat lubang kecil sebesar paku, dan air menetes melalui lubang itu. Ya.. kita akan mengatakan payungnya rusak, tidak berguna, perlu diganti. Padahal lubang itu tak ada 1 % dari keseluruhan payung. Begitupun pemimpin, sedikit saja “berlubang” atau ada cacat maka akan dikatakan rusak, tak berguna bila perlu diganti !
Karena itu, pesan Guru saya, pemimpin mesti tahu diri dan ambeg parama arta. Tak perlu “menonjolkan” hal-hal [keberhasilan] saat memimpin, karena bawahan akan memandangnya biasa-biasa saja. Tak perlu mengeluh dan minta dikasihani: saya ini pemimpin kalian, saya sudah memberi yang terbaik untuk kalian, memberikan pengayoman sedang saya dan keluarga justru jadi sasaran ancaman pembunuhan, kalian tidur nyenyak saya kurang tidur memikirkan kehidupan kalian, kalian berkumpul dengan keluarga saya masih rapat membahas nasib kalian. Kurang apa saya ? Jika anda pemimpin, jangan heran jika bawahan anda akan berkata: ah…biasa saja. Lah…sampeyan kan pemimpin.

Nah…lo,

Sekarang, jika payung kita berlubang [pemimpin kita memiliki kekurangan], bawahan kita akan mengkritik habis, minimal mereka akan kasak kusuk: pemimpin kita tuh.. makannya aja banyak, kerjanya NOL besar, omongnya besar sebesar badannya tapi lamban dan gak ngerti apa-apa !

Dan anda sebagai pemimpin mendengar kasak kusuk itu, anda tentu akan mengelus dada dan berkata: kurang apa saya ? saya sudah berikan seluruh hidup saya untuk kalian, dan kalian bersikap seperti itu?

Dan lagi-lagi, anak buah anda akan berkata: biasa ae… Lah, sampeyan kan pemimpin.

Mungkin langkah bijak adalah, anda menyadari adanya lubang paku pada payung anda dan menambalnya semampu anda. Karena jika anda tidak segera menyadari lubang itu, dan sibuk meminta belas kasihan dengan seribu macam pembelaan, bawahan anda akan berkata: Lah…sampeyan kan pemimpin. Biasa ajalah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s