Superhero di dekat kita.

41602566_10214907857665004_6647138038671474688_o

Sebesar apapun anak, sematang apapun usianya, di mata orangtua tetaplah anak kecilnya.

 

Saya merasakan betul itu ketika lulus kuliah tahun 2003, dan menjalani interview kerja di Semarang. Dari rumah pagi selepas subuh saya berangkat dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Alfa tahun 1993. Jarak dari rumah ke lokasi interview kurang lebih 2 jam perjalanan.
Seperti biasa, apa saja kegiatan yang saya lakukan bapak atau ibu biasanya selalu bertanya dan memberi tanggapan. Seperti hari itu, Bapak bertanya bagaimana perjalanan nya ke Semarang, interviewnya, kondisi jalan, kondisi tempat kerja yang dilamar, harapan saya dan sebagainya.
Satu hal yang mengherankan saya waktu itu adalah Bapak bisa merespon tiap cerita saya dengan detail seolah ada di lokasi dan ikut interview. Dan seringkali hal seperti ini terjadi setiap saya ngobrol dengan bapak.
Bertahun tahun setelah kejadian itu, saya baru tahu rahasianya. Rupanya, Bapak menguntit saya ketika mau interview kerja. Bapak memantau saya dari jauh, mengikuti dengan sepeda motor tuanya, Honda GL 100 tahun 1986. Dan bukan hanya mengikuti dijalan, Bapak bahkan sampai juga di perusahaan yang saya lamar, ngobrol dengan security tentang lowongan yang dibuka, pelamarnya berapa, apa job desk nya dan sebagainya. Itulah sebab, Bapak bertanya tentang harapan saya ketika interview. Rupanya bapak sedang menjaga hati anak lelakinya agar tak patah jika gagal,menjaga semangat jagoan kecilnya agar tetap berkobar. Bertahun tahun bapak menyimpan rahasia itu, bahkan hingga akhir usianya.
Saya mengetahui rahasia itu bukan dari Bapak, bertahun tahun setelah kejadian itu. Saya mendapati cerita ini dari ibu, ketika hubungan saya dengan Bapak berada di titik rendah.
“Bapakmu tahu kamu orangnya keras, hatinya tak bisa ditekuk. Karenanya Bapakmu selalu diam diam jangan sampai ketahuan kamu, karena tahu kamu pasti tak suka dan bisa marah. Jangan bilang juga, kalau ini ibu yang cerita, pokoknya anggap saja kamu gak pernah tahu…”
Saya diam. Menunduk menyembunyikan buliran hangat yang mulai menggenangi sudut mata saya.
Berkali kali tiap saya pulang, ketemu Bapak sayapun tak pernah menyinggung atau bercerita soal ini. Saya hanya menikmati betapa kasih dan cinta Bapak sepenuhnya dan selalu sempurna buat saya.

Al Fatihah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s