akhir ramadan, doa doa yang baik dibaca di akhir ramadan bisa dilihat di budiwe.com

Manusia memiliki emosi, ada emosi negatif ada pula emosi positif. Pada dasarnya, manusia akan sulit menerima emosi negatif (marah, kecewa, tidak puas, perasaan bersalah dsb). Wajar ya..sulit menerima emosi negatif itu manusiawi, koq.. Masalahnya: mau sampai kapan?

Dr Elizabeth Kubler Ross, seorang Psikiater mengemukan tahapan penerimaan yang dikenal dengan  the Five Stages of Grief” Jadi, orang kecewa/berduka itu akan melewati 5 tahap:
1. Denial (penyangkalan), reaksinya shock, verbalisasinya: “ini tdk mungkin !”, “bagaimana mungkin bisa terjadi?!”
2. Anger (marah-marah), mulai sadar kenyataan, tapi blm bisa terima. Marah-mrahnya diproyeksikan ke orang lain. 
3. Bargaining (tawar menawar, timbang menimbang) disebut juga fase berandai andai. Seandainya kemarin saya…. atau seharusnya kemarin saya….
4. Depression (depresi), biasanya ditunjukkan dgn prilaku menarik diri, putus asa, menyerah pada keadaan.
5.Acceptance (Penerimaan), tahap ini individu mulai menyadari dan menerima keadaan. Hidup harus terus berjalan.

Nah…kalau pengin cepat tenang, melompatlah ke tahap ke 5. Terima saja. Namun unutk menerima itu, tidak mudah. Apalagi bagi anak kecil, nah…bagaimana cara mengajarkan menerima kekalahan ke anak ?

Tiga (3) cara berikut mungkin bisa membantu :

1. Tunjukkan rasa empati

Kekalahan membuat anak merasa sedih, marah, dan kecewa. Itu pasti dan normal terjadi. Itu sebabnya, kita perlu menunjukkan rasa empati, yaitu turut merasakan kesedihan yang dialami. Tujuannya, bukan untuk menambah kesedihan, melainkan menjadi orang yang bisa dijadikan tempat bersandar. Empati bisa ditunjukkan melalui kata, tindakan dan ekspresi. Dekatilah anak, berikan pelukan atau sentuhan di pundak, ungkapkan bahwa kekaahan bisa terjadi pada semua orang, jadi tak perlu berkecil hati dan kecewa berkepanjangan.

2. Jadikan Orangtua sebagai teladan.

Sebaik baik mendidik adalah dengan menjadi teladan. Bagaimana caranya menunjukkan keteladanan pada anak saat kecewa ?

 Misalnya, saat kita memasak bersama anak. Namun masakannya jauh dari ekspektasi. Nah….pada saat inilah kita bisa mengajari anak untuk menunjukkan sikap lapang dada. Meskipun menunjukkan rasa kecewa, tegaskan bahwa hal tersebut bukan menjadi masalah.

Kita bisa menyampaikan, “Yah, kurang enak masakannyanya. Tapi, nggak apa-apa, deh. Mama tetap senang karena bisa masak sama kamu. Lain kali, kita bikin yang jauh lebih enak, daripada ini, ya….”

Mencoba untuk mengekspresikan hal ini membantu si kecil keluar dari perasaan kecewa dan gagal. Sekaligus, mengajarkan anak untuk tidak menyerah dan menemukan solusi jika mereka menghadapi tantangan yang sama.

3. Beri penghargaan atas usahanya

Cara terbaik untuk meredam kekecewaan anak atas kegagalannya adalah mengakui apa yang telah mereka lakukan. Entah itu memberi pujian, hadiah, atau apa pun yang bisa menyenangkan hatinya.

Selain itu, jangan lupa untuk memberikan mereka dukungan dan kata-kata yang menunjukkan bahwa kamu bangga atas apa yang telah mereka usahakan.

 Mengajari anak untuk menerima kekalahan memang bukan hal yang mudah. Apalagi pada anak dengan kondisi tertentu, misalnya gangguan kecemasan dan atau mengalami masalah yang lain. Jika mengalami kesulitan, bisa menghubungi psikolog, psikitater, terapis, atau ahli terdekat untuk membantu. Yang paling penting adalah, tetap mengkomunikasikan dengan pasangan, sebab tugas kepengasuhan (parenting) bukan tugas SALAH SATU orangtua namun TUGAS BERSAMA selaku orangtua.

By budiwe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *