Perjanjian Pranikah, Perlukah ?

loroblonyo

Media Sosial beberapa hari ini viral dengan cerita #layanganputus, kisah tentang seorang istri dengan 4 anak yang ‘ditelantarkan’ oleh suaminya yang ternyata nikah lagi secara diam-diam, Istri pertama tesebut akhirnya memilih cerai dan berjuang sendirian menghidupi ke empat anaknya. Banyak netizen yang berkomentar dan bersimpati dengan kisah tersebut, tak sedikit pula yang bertanya: bagaimana nafkah ke anak setelah cerai? Jika saat masih berkomitmen (menikah) saja tega menelantarkan apalagi saat tidak ada komitmen (cerai) ?

Saya tidak akan membahas isu viral tersebut, tapi saya akan bercerita tentang Perjanjian Pranikah.

Apa sih Perjanjian Pranikah itu ?

Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur tentang perjanjian pranikah. Dalam Pasal 29 ayat 1 UU tersebut, disebutkan bahwa sebelum melakukan perkawinan, kedua pihak dapat membuat perjanjian tertulis yang disahkan pegawai pencatat perkawinan. Dalam ayat selanjutnya, dinyatakan bahwa perjanjian itu bisa disahkan selama tidak melanggar batas hukum, agama dan kemanusiaan. Perjanjian berlaku sejak perkawinan dilangsungkan dan tidak bisa diubah kecuali ada persetujuan kedua pihak dan perubahan itu tak merugikan pihak ketiga. Perjanjian pranikah tidak cuma berisi soal pemisahan dan percampuran harta, tetapi banyak hal lainnya, tergantung kesepakatan kedua pasangan. Ada yang memasukkan kesepakatan tentang hak asuh anak jika salah satu dari pasangan itu berselingkuh. Ada pula yang mencantumkan hal-hal remeh seperti siapa yang mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga. Bagi mereka yang ingin menikah dengan warga negara asing, perjanjian pranikah juga penting demi melindungi aset di negara masing-masing.

Sudah cukup jelas ya…

Nah…apa pentingnya sih membuat Perjanjian Pranikah ?

Jadi gini, yang sering luput dari perencanaan adalah kita seringkali lupa merencanakan untuk menyiapkan diri menerima kegagalan. Langkah bijak adalah berharap dan berupaya yang Terbaik, namun tetap BERSIAP atas kemungkinan yang terburuk

IMO perjanjian #PraNikah bukanlah soal trust tapi soal komitmen. Dalam pandangan saya perjanjian #PraNikah menjadi komitmen untuk menyelamatkan pernikahan sebelum dimulai.

Memang tdk ada pernikahan yg sempurna, dgn perjanjian #PraNikah berarti menyelesaikan isu2 sblm menikah. Dgn tuntasnya byk isu sblm menikah, membuat org lebih realistis dlm menghadapi pernikahan. Contoh isu sederhana, sblm menikah apakah anda tahu hutang2 pasangan anda? :)) jgn sampai menikah mjd ajang terbongkarnya kebohongan seseorang!!

Belum menikah koq udah mikirin ‘pembagian’ harta lewat perjanjian #PraNikah ? Nah..fyi perjanjian bukan hanya mengatur soal harta:)

Perjanjian #PraNikah bukan melulu soal harta. Apa saja bisa dimasukkan dlm perjanjian selama tdk bertentangan dgn hukum & norma. Misalnya: pembagian tugas RT, pengasuhan anak dsb dpt dimasukkan perjanjian #PraNikah asal ada kesepakatan berdua. Jd bukan soal harta aja.

Sering para calon pasangan hy membicarakan soal kecocokan & yakin pernikahan akan melahirkan saling pengertian 🙂 . Terus menghibur diri dengan kata2 : seiring berjalannya waktu, dia akan berubah. Ora Gampang mengubah kebiasaan dan karakter, Cuk…

Kita sering berharap dgn hidup bersama masing2 pihak akan bisa berubah dan saling menyesuaikan 🙂 setelah menikah, kita akan hidup bersama. Kita punya kebiasaan sendiri, pasangan kitapun sama. Dan bisa jadi ada hal yg tdk cocok, itu baru urusan berdua. Bagaimana jika ada anak? Mertua? Banyak hal yg mungkin bisa terjadi, bukan? Saya ndak nakut2in loh ini…

Banyak hal bisa terjadi dalam Rumah Tangga, karena itu temukan & bicarakan dengan pasangan kemudian tuangkan dalam perjanjian

Untuk bisa menuangkan ke dlm perjanjian #PraNikah memang dibutuhkan kedewasaan, kejujuran & kesanggupan memikirkan kemungkinan terburuk. kalau gak sanggup ndak usah memaksakan diri untuk pura2 dewasa, jujur dan sok tegar, Cuk…

Semua kembali pada kita, apakah melihat perjanjian #PraNikah ini sebagai bentuk ketidakpercayaan (hilangnya Trust) atau…. melihat perjanjian #PraNikah sbg bentuk (Komitmen) perlindungan untuk org2 yg kita cintai di masa yang akan datang.

Iklan

TIGA PILIHAN

20131107_130838

Pada Jaman dahulu, di sebuah kota kecil, seorang pemilik usaha kecil berutang sejumlah besar uang kepada rentenir. Rentenir tersebut orang yang sudah sangat tua, tampak tidak menarik dan kebetulan suka dengan putri pemilik usaha yang berhutang tersebut.

Rentenir  memutuskan untuk menawarkan kepada pengusaha itu sebuah kesepakatan yang akan sepenuhnya menghapus hutang yang dia miliki,  jika dia bisa menikahi putri pengusaha.

Tawaran tersebut  disambut dengan pandangan jijik, namun sang pengusaha tak punya pilihan lain.

Rentenir mengatakan bahwa ia akan menempatkan dua kerikil ke dalam tas, satu putih dan satu hitam.

Anak perempuan itu kemudian harus meraih ke dalam tas dan mengambil kerikil. Jika hitam, hutang itu akan dihapus, tetapi anak perempuan itu harus mau menikah dengan rentenir. Jika putih, hutang juga akan dihapus, tetapi anak perempuan itu tidak harus menikahi rentenir.

Kemudian rentenir  itu membungkuk dan mengambil dua kerikil.

Sementara dia mengambil kerikil, anak perempuan itu memperhatikan bahwa dia mengambil dua kerikil hitam dan memasukkan keduanya ke dalam tas.

Rentenir itu kemudian meminta anak perempuan sang pengusaha untuk meraih ke dalam tas dan mengambil satu kerikil.

Anak perempuan itu secara alami memiliki tiga pilihan  apa yang bisa ia lakukan:

  1. Menolak untuk mengambil kerikil dari tas.
  2. Mengeluarkan kedua kerikil dari tas dan memperlihatkan bahwa si rentenir telah curang.
  3. Tetap Ambil kerikil dari tas meski mengetahui bahwa itu hitam dan mengorbankan dirinya untuk kebebasan hutang ayahnya.

Apa yang kira-kira dilakukan oleh anak perempuan itu ?

Dia mengeluarkan kerikil dari tas, dan sebelum melihatnya ‘tidak sengaja’ ia  menjatuhkannya ke tengah-tengah kerikil lainnya. Kemudian dia berkata kepada rentenir; “Oh, maaf aku begitu gugup dan  canggung. Kerikilnya terlepas jatuh dan bercampur dengan kerikil yang lain. Tapi jangan khawatir,  jika Anda melihat ke dalam tas untuk kerikil yang tersisa, Anda akan dapat mengetahui kerikil mana yang telah saya ambil tadi”

Kerikil yang tersisa di dalam tas jelas berwarna hitam, dan melihat hal tersebut, mau tidak mau si  rentenir harus ikut “menyetujui permainan” si anak perempuan bahwa seolah-olah kerikil yang dijatuhkan tersebut berwarna putih, dan menghapus hutang sang pengusaha.

Selalu ada kemungkinan dan jalan keluar untuk mengatasi situasi sulit dan satu-satunya pilihan yang harus kita ambil adalah Jangan Pernah Menyerah atas pilihan pilihan yang ada. Berpikirlah kreatif dan kadang harus Out of The Box.

Bagaimana menjadi pendengar yang baik.

Tuhan menciptakan dua telinga dan 1 mulut, konon adalah isyarat agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.

P_20170517_141826_vHDR_Auto

Masalah terbesar dalam komunikasi kita adalah, seringkali kita mendengar hanya untuk memberikan balasan jawaban, BUKAN untuk MENGERTI. Sehingga kesediaan untuk mendengar adalah barang mewah yang belum tentu bisa ditebus dengan ilmu dan jabatan yang tinggi sekalipun. Padahal seringkali, separuh masalah akan selesai dengan didengarkan, konon dengan menjadi pendengar yang baik akan mampu meringankan beban orang yang sedang bermasalah. 

Menjadi pendengar yang baik bisa dilatih dan dipelajari, berikut adalah beberapa tips untuk menjadi Pendengar yang baik.

Apakah Anda perlu meningkatkan ketrampilan Anda dalam mendengarkan?

Menurut para ahli, “pendengar yang baik” memperlihatkan pola-pola tingkah laku yang berbeda dan hal ini bisa dengan mudah dilatih dan dikuasai.

Beberapa tips untuk menjadi pendengar yang lebih baik:

  1. Fokus! Hindari gangguan-gangguan dari luar dan perhatikan dengan seksama apa yang sedang disampaikan orang yang sedang berbicara. 
  2. Terjemahkan kata-kata dan emosinya. Kata-kata yang digunakan hanya sebagian dari apa yang sedang mereka sampaikan. Anda dapat menangkap pesan secara keseluruhan dengan cara memperhatikan juga emosi di balik kata-katanya. 
  3. Hindari memotong pembicaraan. Interupsi akan mempengaruhi komunikasi yang efektif. 
  4. Hindari menyaring pembicaraan. Terimalah dengan pikiran terbuka. Usahakan tidak menghakimi apa yang orang lain sampaikan hanya karena nilai-nilai yang Anda pegang.
  5. Ambil kesimpulan dari pesan yang disampaikan. Yakinlah bahwa Anda telah mendengarkan sesuatu dengan benar. Berikan kesimpulan atas apa yang orang lain sampaikan, tanyakan padanya apakah itu yang pesan yang ingin disampaikannya atau bukan.

 

Selamat berlatih untuk menjadi Pendengar yang Baik, ya..!