Ambon Manise: Penyesalan

Ini adalah lanjutan dari ambon manise: sepotong hati tertinggal di sini dan merupakan catatan perjalanan terakhir saya selama di kota Ambon.

Hari 3

Ini adalah hari ketiga saya di Ambon, selepas menikmati sarapan di penginapan saya beranjak untuk bersiap jalan-jalan. Oya, penginapan di Ambon harganya bervariasi mulai dari 75 ribu permalam hingga 150 ribu. Hotel juga banyak tersebar di Ambon mulai harga 280 ribu hingga kisaran juta. Mau gratis? Ada juga, di tengah kota tepatnya di deretan jalan Ambon Plasa terdapat toko barang antik yang menyediakan tempat menginap gratis bagi backpaker. Saya sendiri memilih penginapan seharga 130 ribu per malam dengan fasilitas kamar TV, AC, kasur pegas (spring bed), kamar mandi dalam yang bersih dengan air panas dan masih ada fasilitas sarapan pagi berupa kue-kue dan satu teko teh panas! Tak cukup itu saja, di depan kamar terdapat dispenser panas-dingin yang bisa dipakai bersama dengan penghuni kamar lain. Benar-benar pelayanan yang membuat saya terkesan.

Setelah seharian kemarin menyusuri pantai-pantai, hari ini agenda utama adalah berburu oleh-oleh 😀 Saya sebenarnya bukan tipikal orang yang suka membeli oleh-oleh ( banyak kerabat yang mengatakan ini adalah kalimat lain untuk kata “Pelit”). Sebenarnya bukan soal Pelit, kenapa saya enggan membeli oleh-oleh, namun lebih ke soal ribet dan dengan kecanggihan teknologi sekarang kita bisa belanja apapun cukup dari kursi kita dengan sekali ‘klik’ (OL Shop, layanan Jasa Antar Kilat dan lain sebagainya). Namun tak semua barang ‘aman’ diantar kilat (tak semua barang bisa menggunakan Jasa Antar Kilat) dan dijual di OL Shop, misalnya barang kimia. Selain itu, bersentuhan langsung dengan barang yang kita inginkan juga menjadi sensasi tersendiri saat berbelanja, disamping proses tawar menawar dengan penjual (duuuh…..ibu-ibu banget yah J ).

Di kota Ambon, banyak sekali Rumah Kopi (bukan Kafe (Coffe Shop) modern seperti yang selama ini saya kenal) tapi semacam Rumah Makan sederhana dengan menu utama Kopi, khas Melayu. Bagi pencinta kopi, anda akan dimanjakan dengan hal ini.

Kembali ke oleh-oleh….saya termasuk orang yang praktis dan tidak mau ribet (baca: tidak suka pergi ke banyak toko untuk membandingkan barang), karena itu saya ‘mempercayakan’ (duuuh bahasanya ini loh…) kepada toko Petak 10.

Toko ini menurut saya paling lengkap oleh-olehnya, ada aneka monel (gelang, kalung, cincin), ada juga aneka perhiasan dari mutiara laut asli, aneka batik, aneka kaos khas Ambon, aneka kain tradisional Ambon (tenun) dan yang pasti khas Ambon adalah kue kenari dan tentu saja hasil rempah Ambon (Maluku) seperti kayu putih dan minyak cengkeh.

Sebenarnya banyak tempat yang menjual oleh-oleh khas Ambon ini, misalnya toko di perempatan jalan depan Masjid Al Fatah (kalau tidak salah nama tokonya: Hidayah). Kemudian minyak kayu putih dan minyak cengkeh bahkan banyak di jual disepanjang jalan. Jika anda merasa bingung, jangan khawatir anda bisa bertanya kepada tukang becak dan tukang ojek atau penduduk setempat. Jangan takut dibohongi atau ditipu, orang-orang Ambon lebih jujur daripada politisi busuk di Jakarta. Pengalaman saya sudah berkali-kali membuktikan. Seperti pagi itu, saya menyapa salah satu Bapak penarik becak dan bertanya, “ Ke Toko oleh-oleh petak 10, berapa pak?”

“7000”

“Kalau sekalian balik sini berarti 14 ribu ya?”

“iya, pak”

Nah…meluncurlah kami ke toko oleh-oleh, sepanjang jalan saya bertanya banyak hal ke bapak penarik becak. Bagi saya Ambon dan orang-orangnya sangat menarik, saya banyak bertanya hal-hal yang mungkin seringkali luput dari perhatian pelancong, misalnya: kenapa banyak rumah dan mobil angkot serta beberapa tempat bertuliskan ‘holland’ ? Kenapa Orang Ambon suka bernyanyi dan suaranya bagus-bagus ? Kenapa gadis-gadis Ambon rata-rata langsing dan …ehm manis manis? Semuanya itu ada kisahnya, ada ceritanya! Sangat menarik, mungkin kapan-kapan saya harus menceritakannya. J Kali ini saya akan menceritakan tentang becak! 😀 Saya perhatikan becak di Ambon ini unik sekali, bukan bentuknya, tapi warna dan tulisannya. Ternyata, becak di sini diatur operasionalnya berdasarkan hari tertentu. Misalnya, becak bertulis Senin-Kamis berwarna putih maka hanya boleh operasional hari Senin dan Kamis saja. Hal ini sangat dimaklumi mengingat jalanan kota Ambon yang tidak terlalu lebar dan lalu lintas yang cukup sibuk terutama di jam-jam tertentu.

Di toko oleh-oleh saya membeli kain tenun, kaos, syal tenun, Minyak kayu putih, minyak cengkeh dan tentu saja aneka kue kenari. Di toko petak ulu 10 ini, untuk kue kenari ada paket-paketnya jadi bisa disesuaikan tergantung budget. Misalnya paket 200 ribu, 300 ribu dan lain-lain. Bisa juga beli eceran mulai harga 20 ribu. Untuk harga kaos mulai harga 80 rb-100 rb, kain tenun rata-rata 700 rb, syal tenun 80 ribu. Perhiasan mutiara harga juga bervariasi. Puas berbelanja, saya tidak langsung seperti kembali, saya putar-putar kota dengan becak. Saya minta diantar ke pembangunan Jembatan Merah Putih, jembatan yang melintasi teluk Dalam Ambon. Jembatan megah yang diproyeksikan selesai pada tahun 2014 mendatang.

Jembatan ini menghubungkan Galala Poka-Ambon yang bisa mempersingkat waktu tempuh dari kedua tempat itu dari sekitar 1,5 jam menjadi sekitar 20-30 menit, sehingga akses ke Bandara Internasional Pattimura di Teluk Ambon menjadi lebih cepat. Lokasi bandar udara kota Ambon ini cukup unik, persis di ujung Teluk Ambon di mana sisi yang lain terletak Kota Ambon. Pemakai jasa penerbangan bisa mencapai Bandar Udara Internasional Pattimura melalui jalan darat menyusuri Teluk Ambon atau memotong perairan teluk itu memakai perahu cepat. Ongkos naik perahu cepat sekitar Rp 7.000, 00

Ambon memang terus berbenah dan mempercantik diri, tak heran banyak event skala nasional di selenggarkan disini, misalnya MTQ Mahasiswa Nasional, Pesparawi tingkat Nasional dan Festival Jazz (AJPF, Ambon Jazz Plus Festival) yang bukan hanya di ikuti oleh artis-artis Jazz dari dalam negeri saja namun juga dari mancanegara seperti Amerika dan Singapura.

Hari ketiga saya di Ambon ini sekaligus hari penyesalan terbesar saya, penyesalan pertama saya adalah saya tak bisa tinggal lebih lama lagi L penyesalan berikutnya adalah saya tidak membawa kamera yang memadai untuk mengabadikan keindahan alam dan pesona Ambon. Semua gambar saya ambil dari HP butut saya, andai membawa kamera yang lebih memadai pastilah keindahan Ambon akan terekam sempurna. Namun saya meyakini, suatu saat nanti pasti akan kembali, karena sepotong hatiku masih tertinggal di sini. Di Ambon Manise.

Ambon Manise: Sepotong Hati Tertinggal di Sini

Ini kali kedua saya menginjak Ambon, tidak banyak yang berubah dari Ambon. Pagi seetibanya di Bandara saya sudah di jemput abang ojek yang dulu menjemput saya,ketika pertama kali ke Ambon. Bang Ferdy namanya. Abang yang satu ini asli Ambon dan mengenal kotanya dengan baik. Bak sudah kenal lama dengan saya, si abang mengantar ke penginapan yang dekat dengan Masjid Raya Al Fatah, masjid yang termegah di kota Ambon.

“Nah, mas Budi kalo mau ke masjid buat sholat tinggal jalan saja” katanya.

Satu hal yang saya syukuri, walaupun berbeda agama, bang Ferdy justru yang mengingatkan saya untuk tetap berjamaah. “Boleh jauh dari keluarga, tapi jangan Jauh dari Tuhan”

Bang Ferdy ini pula yang saya manfaatkan jasanya sebagai guide selama saya diambon.

Setelah menaruh barang di penginapan tujuan pertama kami adalah Pantai Natsepa! Pantai yang terkenal dengan rujaknya 😀 Ya, saya lebih mengenal pantai ini dengan rujaknya yang dijual di sepanjang jalan menuju pantai atau di pinggir pantai pasir putihnya. Sayang pantai masih sangat sepi ketika kami tiba disana, maklum kami tiba pukul 08 kurang waktu setempat. Selepas menikmati pantai yang sepi, kami bertolak ke Patung Martha Christina Tiyahahu sekaligus melihat kota Ambon dari atas. Amboi memang indah kota Ambon ini.

Menjelang siang, kami kembali menuju ke kota. Tujuan saya, saya ingin merasakan kuliner ikan Bakar di salah satu sudut jalan di kota Ambon. Saya agak lupa nama gangnya, kalau tak salah gang Arab. Disepanjang jalan itu orang berjualan ikan bakar. Saya memilih warung milik Rudy Lombe, saya memilih warung ini dengan pertimbangan yang menurut saya agak konyol, yaitu: Warungnya tidak menyediakan bir seperti warung sebelah. Hahahahaa 😀

Disinilah saya kembali menikmati ikan Lema bakar dengan colo-colo yang segar itu…

Selapas makan siang, saya dan bang Ferdy berpisah. Saya melanjutkan jalan ke masjid Al Fatah dan bang Ferdy pulang ke rumah.

Malamnya, gairah jalan-jalan saya masih menyala. Selepas menikmati ikan bakar (yang tak pernah bosan saya makan) saya berjalan menyusuri kota Ambon menuju Gong Perdamaian.

Gong Perdamaian terletak di depan Kantor Gubernur Maluku.

Gong ini merupakan Gong Perdamaian ke-35 di dunia yang berada di Taman Pelita, dekat di pusat kota Ambon. Gong megah dan besar ini dibangun di kota Ambon tujuannya ingin memperbaiki citra Ambon yang dulu pernah identik dengan kerusuhan dan kekerasan.

Untuk bisa masuk ke wilayah gong ini, Anda cukup merogoh kocek sekitar Rp 5.000.

Gong Perdamaian Dunia memiliki diameter seluas dua meter dan berwarna keemasan. Selain dipenuhi dengan gambar bendera dari tiap negara, yang berjumlah sekitar 200 bendera, juga terdapat simbol tiap agama di dalam lingkarannya. Di tengahnya juga terdapat miniatur bumi dan bertuliskan ‘Gong Perdamaian Dunia’ pada bagian bawah, serta ‘World Peace Gong’ pada bagian atas lingkarannya.

Dengan disangga dua pilar raksasa, di atas gong ini juga terdapat lambang Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Tak sedikit traveler berkunjung ke tempat ini untuk berfoto dan melihat kemegahan Gong Perdamaian Dunia dari dekat.

Gong Perdamaian tersebut adalah gong yang berasal dari desa Plajan, Mlonggo, Jepara, Jawa Tengah. Kopnon katanya Gong tersebut merupakan duplikat dari Gong yang dibuat oleh seorang wali 450 tahun yang lalu dan digunakan untuk da’wah syiar Islam di lereng gunung muria. Gong Asli yang bernilai sakral tersebut adalah milik ibu Mursini, generasi ketujuh dari wali yang membuatnya. Sedangkan yang terpasang di Ambon adalah buatan Djuyoto Suntani warga lereng Muria, Jawa Tengah untuk dijadikan gong perdamaian dunia. sebagai satu-satunya sarana persaudaraan dan pemersatu umat manusia. Duplikat Gong Perdamaian Dunia telah dipasang secara permanen di China, India, Swiss, Helsinki (Finlandia), Maputo (Mozambik), Godollo (Hongaria) dan selanjutnya menyusul akan dipasang di gedung putih, Washington DC (Amerika), Caracas (Venezuela), Islamabad (Pakistan), London (Inggris), Berlin (Jerman), Paris (Perancis), Moskow (Rusia), Istanbul (Turki), Cape Town (Afsel), Madrid (Spanyol), Amsterdam (Belanda) dan tahun 2015 dipasang di seluruh dunia termasuk satu unit Gong Perdamaian Dunia akan dipasang di bulan.

Dari Gong Perdamaian saya ke Lapangan kantor Gubernur, wah malam-malam banyak orang berolahraga disana. Ada juga yang memanfaatkan untuk…..pacaran! 😀

Capek berkeliling saya kembali ke penginapan, besok rencana memulai lagi petualangan di Ambon.

HARI KE-2

Tak disangka, dimalam yang sama ketika saya berjalan-jalan ada kawan yang juga tiba di Ambon dari petualangan di pulau Buru. Kamipun janjian untuk sarapan pagi bersama, kali ini bukan ikan bakar. Kawan saya itu rindu masakan kampungya, jadilah kami mencari warung Coto Makasar. Selepas sarapan kami ngobrol dibawah patung Pattimura.

Patung Pattimura ini terletak di depan Kantor Gubernur Maluku, patung yang sekarang terbuat dari perunggu untuk mengganti patung lama. Konon ceritanya, patung yang lama tidak mau dipindah. Bahkan proses penggantian patungnya juga tidak semudah yang direncanakan. Bahkan dikabarkan patung yang lama menangis ketika diturunkan untuk diganti yang baru. Itu cerita yang kami dapatkan dari penduduk sekitar. Dari patung Pattimura, kami berpisah jalan.

Kawanku harus kembali ke Yogyakarta, sedang aku kembali berpetualang. Sesuai rencana, saya akan menyusuri pantai-pantai yang ada di Ambon, namun sebelum ke pantai saya ingin ke museum Siwalima terlebih dahulu.

Museum Siwalima adalah museum kelautan yang menyimpan aneka kekayaan laut Maluku dan juga sejarah dan budaya Maluku.

Dari Museum Siwalima, saya menuju ke Pantai Bethesda. Dinamakan pantai Bethesda, karena pantai ini dikelola oleh gereja Bethesda.

Pantai ini terkenal dengan lautnya yang jernih dan ‘ceburable’ alias mengundang orang untuk mencebur. Sayang, pantai ini belum dikelola dengan baik, sehingga pengunjung masih sedikit. Namun justru itu kelebihannya, pantai ini menjadi masih sangat alami. Setelah puas menikmati pantai Bethesda, saya menuju pantai Pintu Kota.

Pantai ini masih satu deret dengan pantai Bethesda. Bedanya, pantai pintu Kota terkenal dengan batu-batu karangnya. Disebut pantai pintu Kota, karena memiliki batu karang yang menyerupai pintu gerbang masuk kota. Sama seperti pantai Bethesda, pantai ini pun juga sedikit pengunjungnya. Namun hebatnya pengunjungnya justru orang-orang asing. Mereka tertarik untuk menyusuri batu karang dan goa-goa yang ada di sekitar pantai pintu kota. Pantai pintu Kota dapat juga dilihat dari atas bukit. Diatas bukit ini kita bebas melihat ke laut lepas. Untuk naik ke atas bukit, terdapat anak tangga yang cukup untuk membuat “ngos-ngosan” orang yang jarang berolahraga seperti saya.

Tak bosannya saya menikmati udara dan suasana pantai yang segar, hingga rintik gerimis memaksaku untuk beranjak. Saya pulang ke penginapan.