10 Tips Makan Malam Romantis bersama Pasangan

20131107_130838

Malam minggu adalah saat yang banyak ditunggu. Setelah seminggu penuh menghabiskan waktu dan tenaga untuk bekerja, inilah saat untuk bersua dengan orang-orang tercinta dan menghabiskan waktu bersama mereka. Bagi yang berpasangan berikut ini ada 10 tips makan malam romantis bersama pasangan.

1. Sebelumnya pastikan dulu anda benar-benar punya pasangan.
2. Jemput dengan cara sopan tapi jgn berlebihan, misal: jemput sambil bawa Vorijder, patwal atau bawa ketua RT
3. Jika anda menjemputnya dgn mobil, bukakan pintu untuknya. Ingat, jgn menyuruhnya masuk lewat jendela mobil
4. Jika anda menjemputnya dgn motor, jgn memaksanya duduk di setang motor atau membonceng smbl hadap belakang. PASANGAN ANDA BUKAN SIRKUS!
5. Setelah sampai di tempat makan, cari kursi kosong. Duduklah dihadapannya. Jgn duduk di pangkuan mas2 kasir. JANGAN!
6. Ajak dia ngobrol2 ringan smbl menunggu makanan. Hindari obrolan spt: prediksi ekonomi dunia 2015 atau melemahnya nilai tukar rupiah.
7. Beri dia kejutan spt sekotak coklat dgn cincin di dlmnya. Kejutan yg tdk disarankan: petasan, jenglot, atau ular kobra
8. Sesekali belai lembut kepalanya smbl berkata: “Rambutmu selembut hatimu”. Jangan berkata: “KEPALA KAMU GAK ADA PAKU KAN?”
9. Jika pasangan anda berjilbab, anda jangan memaksa untuk memasukkan tangan kedalam jilbab apalagi sampai memakai metal detector untuk memastikan benar-benar tidak ada paku.
10. Selesai dinner, pegang tangannya. Ucapkan 3 kata yg akan membuat hatinya berdebar kencang: “Tolong bayar billnya.”

Demikian 10 Tips ini semoga malam minggu anda makin ceria seperti toko swalayan!

CINTA YANG AGUNG

loroblonyo

Adalah ketika kamu menitikkan air mata

dan MASIH peduli terhadapnya..

Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH

menunggunya dengan setia..

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain

dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku

turut berbahagia untukmu’

Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu…

Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya

dan terbang ke alam bebas LAGI ..

Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan

kehilangannya.

tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati

bersamanya…

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu

menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika

mereka jatuh.

(Kahlil Gibran)

Ketika pulang ke Yogya, seperti biasa saya memilih naik bis ekonomi. Entah kenapa saya selalu menikmati perjalanan pulang dengan bis ini, banyak pedagang, pengamen dan aneka rupa bau-bauan… 🙂 hanya satu hal yang tidak nyaman buat saya: ASAP ROKOK !
Dari sekian banyak rombongan pengamen yang hilir mudik beraksi, satu pengamen menarik perhatian saya. Dengan bermodal harmonika, dia berpuisi. Kalil Gibran pula! dan di akhir penampilan dia membacakan sebuah cerita, tentang cinta dan waktu. Cerita ini seringkali saya baca di milis-milis, namun entah kenapa menjadi berbeda saat itu. Atau karena saya hendak pulang dan menemui separuh hati saya ? Entahlah…. yang pasti, hingga jari saya memencet keyboard ini. Saya masih terkesan dengan cerita yang dibawakan pengamen itu.

Ceritanya begini:
Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak : ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan

karena ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai dan mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. ”Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta.

”Aduh! Maaf, Cinta!” kata Kekayaan.

“Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini”.

Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya.

“Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak Cinta.

Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan.

“Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta

“Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini”, sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan.

”Oh, Kesedihan. Bawalah aku bersamamu”, kata Cinta.

”Maaf Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja…” kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa. Ia merasakan air semakin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara.

”Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!”

Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu.

”Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu” kata orang itu.

”Tapi mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku” tanya Cinta heran.

”Sebab” kata orang itu ”Hanya Waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu…”

Setiap kali, mengingat cerita ini. Saya selalu ingat bahwa “LIFE and TIME are 2 great teachers…

LIFE teaches us the use of TIME and TIME teaches us the value of LIFE”

dan sungguh, setelah sekian lama melewatkan waktu bersama. Semakin yakin dan mengerti bahwa aku makin cinta.

I Love You…

CINTA TIDAK BUTUH PENGORBANAN

sepeda galuh

Itu yang aku pelajari dari ibuku sore ini. Sudah menjadi kebiasaan kami, setiap malam minggu kami berkumpul di rumah ibu. Anak-anak ibu 4 0rang dan semua sudah berkeluarga dan memiliki anak. Kami masih tinggal satu kota dengan ibu, walaupun berbeda kecamatan. Ketika semua cucunya berkumpul, diam diam ibu mengeluarkan hadiah untuk cucu cucunya. Entah dalam rangka apa ibu memberikan kejutan ini. Padahal kami semua tahu, ibu sedang tidak punya uang. Jumlah hadiah yang tidak sedikit, mengingat cucu ibu ada 4 orang. Darimana ibu memperoleh uang untuk membelinya? Ya, ibuku telah menjual satu-satunya cincin yang menjadi miliknya, hasil tabungan dari usaha beliau membuka warung. Kami semua diam ketika ibu membagi sepeda mini ke cucu cucunya.

“Pengorbanan Eyang Uti besar lho untuk membeli sepeda ini, dirawat yang baik ya” pesan adikku pada jagoan kecilnya.

“Bukan. Ini bukan pengorbanan. Aku tidak pernah merasa berkorban apapun. Aku melakukannya suka cita, karena aku mencintai kalian” sahut ibuku.

Tak ada yang dikorbankan. Semua berjalan ringan penuh suka cita.

Kami terdiam, meresapi kata-kata ibu. Hingga tanpa sadar butiran hangat mengalir dari sudut mata kami, menetes hingga pipi.

Ibu benar. Jika kami telah berpikir melakukan pengorbanan, sesungguhnya kami telah menciderai cinta itu sendiri. Cinta itu tak pernah menuntut, apalagi meminta pengorbanan. Karena jika sudah menuntut, bukan lagi cinta namanya, tapi TRANSAKSI. Cinta juga tidak membutuhkan alasan dan syarat. Ibuku bukanlah sosok wanita berpendidikan tinggi yang mampu mendefinisikan cinta dari berbagai teori dan sudut pandang keilmuan, bukan pula seorang trainer motivasi apalagi seorang pujangga yang hebat merangkai kata. Ibuku ‘hanya’ wanita desa biasa yang bahkan tak lancar menulis dan membaca.

Namun begitu, bagi kami, anak-anaknya ibu adalah Guru yang tak pernah digaji, sekolah yang hanya memiliki satu pelajaran: CINTA, dan memberi nama muridnya: Yang di Cinta.

Tak banyak yang bisa kami lakukan untuk beliau, selain harapan dan doa:

Ibu, semoga kelak kami bisa menjawab pintamu, yang selalu kau hamparkan di atas sajadah di tiap sepertiga malam.