Rahasia Telur Mata Sapi Ibu

telur

Hari ini istriku membuatkan sarapan pagi telur mata sapi diiringi ucapan : “Maaf ya, Yah. Mam hari ini tidak masak..”

Aku tersenyum, “Gak papa, mam. Ayah paling suka telur mata sapi”

Aku menyantap telur sapi dengan ingatan melayang ke masa kecilku dulu. Kami empat bersaudara dengan selisih usia masing-masing  2 tahun saja, terbayang betapa repot dan hebohnya ibu dalam mengurus kami. Kakak sulungku usianya 10 tahun dan masih duduk di kelas 4 SD, aku sendiri anak nomor dua dan duduk di kelas 2 SD, sedangkan adikku masih TK serta sibungsu baru berumur 4 tahun.

Semasa SD dulu, selain sebagai hidangan istimewa di rumah, ibu juga membekali kami dengan telur untuk dimakan di sekolah. Kadang ibu membuatkan telur mata sapi, kadang dadar dan kadangkal juga telur orak orik yang kami sebut dengan ‘telur kacau’ karena bentuknya yang tak karuan. Telur adalah menu termewah kami, selain menu harian kering tempe dan tahu bacem.

Seringkali saat istirahat sekolah, kami sembunyi-sembunyi memakan bekal kami, kami merasa bekal kami tak layak tampil diantara bekal teman-teman. Bekal kami rasanya seperti seorang putri berwajah pucat yang berada di pesta mewah para bangsawan. Tak guna rasanya berwajah cantik jelita, jika penampilannya pucat. Tidak menarik. Tak guna rasanya Ibu menjelaskan manfaat telur bagi tubuh dan otak. Kami bosan dengan bekal sekolah yang tak pernah berganti.

Suatu hari, ketika saat istirahat sekolah tiba, kakak terlambat menghampiri kami untuk makan di ‘persembunyian’. Terpaksa kali ini, kami harus makan di tengah teman-teman yang lain, terpaksa hari ini ‘si putri pucat pasi’ harus tampil di tengah tengah pesta meriah para bangsawan. Kami melihat bekal teman beraneka rupa, tampilannya elok mearik mata…hmmm…rasanya pasti juga nikmat. Diantara bekal yang dibawa teman-teman tersebut, kami melihat seorang teman membawa bekal ayam goreng tepung dengan saus merah meyala, kelihatanya enak sekali. Kami baru tahu ada ayam goreng dibungkus tepung seperti roti. Ah bolehlah sekali waktu kami berganti menu, kamipun ingin bisa menikmati Ayam goreng tepung seperti teman kami itu.

Esok harinya, saat ibu menyiapkan bekal kami dan lagi-lagi telur! Kami beranikan minta ke ibu untuk berganti menu. Kami ceritakan betapa menariknya ayam goreng yang dibungkus tepung seperti roti itu kepada ibu. Ibu menyimak cerita kami sambil tersenyum, kemudian berkata:

“kalian tahu kan ayam asalnya darimana? Dari telur bukan? Nah.. sekarang coba perhatikan ibu, kalau kalian pilih ayam, kalian hanya kan dapat sepotong kecil paha, sepotong kecil sayap atau malah sesuwir daging ayam karena harus dibagi berempat. Tapi, jika kalian pilih telur ayam, kalian akan dapat semuanya. Ingat, didalam telur ini ada kepala ayam, ada paha ayam, ada sayap ayam juga, semua lengkap. Nah…satu telur mata sapi ini sama nilainya dengan 1 ingkung ayam. Benar tidak ?”

Amboi….sungguh pintar ibuku ini. Kamipun ‘terpaksa’ manggut-manggut menyetujui pendapat ibu tersebut. Kami masukkan bekal kami ke dalam tas dan kami berangkat dengan keyakinan penuh bahwa bekal sekolah kami pagi ini adalah satu ekor ingkung ayam.

Bertahun kemudian… setelah masing-masing dari kami memiliki anak, kami memahami sepenuhnya bahwa 3 orang anak kecil usia SD ditambah dengan seorang bayi akan menyebabkan terguncangnya stabilitas ekonomi keluarga jika memaksakan diri menikmati Ayam goreng tepung roti. Kami berasal dari keluarga sederhana dan hanya mengandalkan Ayah sebagai penopang ekonomi keluarga, tapi kami memiliki ibu yang pintar. Ibu yang memiliki segalanya, kecuali satu hal yaitu RASA LELAH.

“Ayah…” suara istriku, menyadarkanku dari lamunan. Kuseka ujung mataku yang mulai tergenang air mata.

Ibu, tak banyak yang bisa kami lakukan untukmu, selain harapan dan doa:

Ibu, semoga kelak kami bisa menjawab pintamu, yang selalu kau hamparkan di atas sajadah di tiap sepertiga malam.

CINTA TIDAK BUTUH PENGORBANAN

sepeda galuh

Itu yang aku pelajari dari ibuku sore ini. Sudah menjadi kebiasaan kami, setiap malam minggu kami berkumpul di rumah ibu. Anak-anak ibu 4 0rang dan semua sudah berkeluarga dan memiliki anak. Kami masih tinggal satu kota dengan ibu, walaupun berbeda kecamatan. Ketika semua cucunya berkumpul, diam diam ibu mengeluarkan hadiah untuk cucu cucunya. Entah dalam rangka apa ibu memberikan kejutan ini. Padahal kami semua tahu, ibu sedang tidak punya uang. Jumlah hadiah yang tidak sedikit, mengingat cucu ibu ada 4 orang. Darimana ibu memperoleh uang untuk membelinya? Ya, ibuku telah menjual satu-satunya cincin yang menjadi miliknya, hasil tabungan dari usaha beliau membuka warung. Kami semua diam ketika ibu membagi sepeda mini ke cucu cucunya.

“Pengorbanan Eyang Uti besar lho untuk membeli sepeda ini, dirawat yang baik ya” pesan adikku pada jagoan kecilnya.

“Bukan. Ini bukan pengorbanan. Aku tidak pernah merasa berkorban apapun. Aku melakukannya suka cita, karena aku mencintai kalian” sahut ibuku.

Tak ada yang dikorbankan. Semua berjalan ringan penuh suka cita.

Kami terdiam, meresapi kata-kata ibu. Hingga tanpa sadar butiran hangat mengalir dari sudut mata kami, menetes hingga pipi.

Ibu benar. Jika kami telah berpikir melakukan pengorbanan, sesungguhnya kami telah menciderai cinta itu sendiri. Cinta itu tak pernah menuntut, apalagi meminta pengorbanan. Karena jika sudah menuntut, bukan lagi cinta namanya, tapi TRANSAKSI. Cinta juga tidak membutuhkan alasan dan syarat. Ibuku bukanlah sosok wanita berpendidikan tinggi yang mampu mendefinisikan cinta dari berbagai teori dan sudut pandang keilmuan, bukan pula seorang trainer motivasi apalagi seorang pujangga yang hebat merangkai kata. Ibuku ‘hanya’ wanita desa biasa yang bahkan tak lancar menulis dan membaca.

Namun begitu, bagi kami, anak-anaknya ibu adalah Guru yang tak pernah digaji, sekolah yang hanya memiliki satu pelajaran: CINTA, dan memberi nama muridnya: Yang di Cinta.

Tak banyak yang bisa kami lakukan untuk beliau, selain harapan dan doa:

Ibu, semoga kelak kami bisa menjawab pintamu, yang selalu kau hamparkan di atas sajadah di tiap sepertiga malam.