Putri dan Buaya

2013-12-12-15-57-49.jpg

Disekeliling kita banyak kita temui orang yang menikmati pekerjaannya, namun tetap saja lebih banyak orang yang tidak menikmati, bahkan tidak ada lagi motivasi untuk bekerja, mereka pergi ketempat pekerjaannya hanya untuk menyambung hidupnya. Apa yang membuat perbedaan ini?
Seorang konglomerat tua sedang resah, karena anak gadisnya belum juga mendapat jodoh, selain itu dia pun khawatir dengan calon putra mahkota yang akan meneruskan imperium bisnisnya. Maka dibentuklah panitia ad hoc untuk rekruitmen calon menantu ini, setelah tim bekerja keras menjaring calon-calon menantu, dengan berbagai jenis tes yang ada, terpilihlah lima calon menantu.
Tibalah saatnya untuk pengujian terakhir langsung oleh sang konglomerat sendiri. Tes itu diadakan di seputar kolam renang istananya. Para Kandidat menantu berdiri di pinggiran tempat perenang memulai startnya, sedangkan sang konglomerat berdiri di tepi seberangnya.
“Para calon menantu, mengingat tugas Anda nanti cukup berat, yaitu sebagai penerus bisnisku, dan pendamping putriku semata wayang maka ujian terakhir ini langsung dari aku” tegas sang konglomerat”.
“Ujiannya adalah berenang dari tempat Anda berdiri ke tepi tempat saya berdiri disini”, Maka para kandidat langsung mengambil ancang-ancang, lalyaknya perenang olimpiade, mereka tidak mau kecurian waktu saat start, namun rupanya instruksi belum selesai, dengan suara lantang sang konglomerat menambahkan “Kalau hanya itu ujiannya tentu terlalu enteng, tidak sepadan dengan ujian yang akan Anda hadapi, supaya mendekati dengan kenyataan dunia bisnis yang keras, maka sebentar lagi akan dimasukkan lima buaya yang sudah lima hari tidak makan”, segera dimasukkanlah buaya ke kolam renang itu.
Para Kandidat kelihatan bergidik, dan bergeser sedikit-sedikit mundur dari tepian. Dengan tak sabar sang konglomeratpun berteriak “Saya akn beri hitungan mundur sebanyak tiga kali, kalau ada yang berani silakan menceburkan diri, bila memang tidak berani, tidak apa-apa, akan kami cari calon yang lebih punya nyali, tiga… dua….sat….”
Tiba-tiba ada seorang kandidat yang berani masuk kekolam, berenang kencang, seekor buaya yang paling besar berenang mengejarnya, namun rupanya tak terkejar, sampailah calon menantu pemberani ini di tepian seberang dan meloncat disamping sang konglomerat. Semua yang ditepi kolam berdecak kagum, melihat anak muda yang pemberani ini.
“Anak muda yang pemberani selamat, anda memang layak menjadi putra mahkotaku, Disebelah kiriku telah menunggu putriku dan petugas yang siap menikahkanmu, dan disebelah kanan telah siap notaris dan para pemegang saham yang siap menyelenggarakan RUPS, Mana yang kamu pilih pertama. Dengan terengah-engah si anak muda ini menjawab : dua-duanya bisa ditunda dulu pak, yang pingin saya lakukan pertama adalah, mecari tahu siapa yang telah mendorong saya sehingga tercebur kekolam renang dan membuat saya hampir mati, dimakan buaya….
Kawans, motivasi kita dalam bekerja tidak jauh berbeda dengan motivasi anak muda tadi, yaitu didorong oleh ketakutan diwakili buaya atau visi kedepan diwakili putri, Bila kita bekerja hanya karena ketakutan (takut melarat/takut menganggur), maka kita akan menjalani pekerjaan dengan ketakutan dan keterpaksaan, Namun bila kita bekerja untuk mengejar visi kita yang telah tersusun di pikiran kita, maka kita akan melakukan pekerjaan kita dengan nikmat dan bersemangat, Yang mana pilihanmu ?

Melatih Kuda Terbang

2013-12-12-15-57-49.jpg

Ada seorang laki-laki yang di jatuhi hukuman mati oleh raja, meminta penangguhan hukuman mati dengan menawarkan sesuatu: “Aku akan mengajarkan kuda raja supaya bisa terbang dalam waktu setahun,” Kata tahanan itu. “Kalau aku tidak berhasil, baginda bisa mencabut nyawaku.”

Sang Raja senang dan mengabulkan permintaan pria itu.

“Apa kamu sudah gila?” tanya teman pria itu. “Mengapa kau mengajukan penawaran seperti itu? Tentu saja kamu pasti mati tahun depan.”

“Satu tahun itu masih lama,” kata pria terhukum itu. “Banyak hal bisa terjadi dalam setahun. Mungkin saja Raja meninggal. Atau aku mungkin mati karena sebab lain. Atau mungkin kuda Raja yang mati. Siapa yang tahu? atau mungkin juga kuda bisa terbang!”

Kawans, seorang pemimpin visioner  akan melihat banyak kemumgkinan di masa depan. Ia mengasumsikan, jika satu pintu telah tertutup, pintu yang lain dengan nilai yang sama akan terbuka. Terkadang hidup adalah perkara mengulur waktu dan menyusun strategi lebih baik untuk melakukan “tendangan balik”. Berperang bukan hanya perkara maju menyerang, namun juga strategi untuk bertahan. Satu keahlian terpenting yang akan membuat sukses adalah kemampuan melihat beberapa kemungkinan, kemudian fokus pada salah satu yang paling memungkinkan untuk memberikan keuntungan, dan bekerja keras untuk mewujudkannya.

Sang Penakluk

20150328_124123

Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia dijuluki “Sang Jenderal Penakluk” oleh rakyat. Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak.
Mereka melarikan diri, namun terangsak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu para prajurit Sang Jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah kepada musuh saja. Sang Jenderal segera mengambil inisiatif, “Wahai seluruh pasukan, menang-kalah sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita akan menanyakan kepada para dewa, apakah hari ini kita harus kalah atau akan menang. Saya akan melakukan tos dengan keping keberuntungan ini! Jika sisi gambar yang muncul, kita akan menang. Jika sisi angka yang muncul, kita akan kalah! Biarlah dewa-dewa yang menentukan!” seru Sang Jenderal sambil melemparkan kepingnya untuk tos.
Ternyata sisi gambar yang muncul! Keadaan itu disambut histeris oleh pasukan Sang Jenderal, “Hahaha… dewa-dewa di pihak kita! Kita sudah pasti menang!!!” Dengan semangat membara, bagaikan kesetanan mereka berbalik menggempur balik pasukan lawan. Akhirnya, mereka benar-benar berhasil menunggang-langgangkan lawan yang berlipat-lipat banyaknya.
Pada senja pasca-kemenangan, seorang prajurit berkata kepada Sang Jenderal, “Kemenangan kita telah ditentukan dari langit, dewa-dewa begitu baik terhadap kita.”
Sang Jenderal menukas, “Apa iya sih?” sembari melemparkan keping  keberuntungannya kepada prajurit itu. Si prajurit memeriksa kedua sisi keping itu, dan dia hanya bisa melongo ketika mendapati bahwa ternyata kedua sisinya adalah gambar.
Memang dalam hidup ini ada banyak hal eksternal yang tidak bisa kita ubah; banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak kita. Namun demikian, pada dasarnya dan pada akhirnya, kita tetap bisa mengubah pikiran atau sisi internal kita sendiri: untuk menjadi bahagia atau menjadi tidak berbahagia. Jika bahagia atau tidak bahagia diidentikkan dengan nasib baik atau nasib buruk, jadi sebenarnya nasib kita tidaklah ditentukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh diri kita sendiri.