Categories
Kisah Inspiratif

IBLIS GREAT SALE!

iblis great sale

Suatu ketika iblis menggelar cuci gudang besar-besaran, discount All Product! Jauh jauh hari iblis sudah mengiklankan di seluruh media terkemuka, dan tepat pada hari H seluruh peralatan dan perkakas yang akan di cuci gudang dipajang lengkap dengan harga jual dan discountnya. Perkakas yang dijual sungguh menarik dan semua berfungsi dengan baik, harganyapun tidak mahal, bahkan masih kena discount.
Perkakas itu antara lain: Iri, Dengki, Tak jujur, Tak Pandai Bersyukur, Malas, Dendam, Aniaya, Khianat dan lain sebagainya.
Di sebuah pojok ruang pamer, terdapat satu perkakas yang keliatan sudah usang, aus, bentuknya sederhana, dan harganya sangat tinggi dibanding perkakas yang lain dan lagi alat ini TIDAK ADA discount-nya !
Perkakas ini banyak dilihat oleh pembeli, mereka terheran heran dengan alat yang usang, aus, sederhana namun berharga jual paling mahal. Seorang calon pembeli bertanya: ” Alat apa ini ?”
Iblis menjawab: “ini namanya Putus Asa”
Calon Pembeli: “kenapa harganya mahal sekali ? padahal alat ini sudah usang, aus dan bentuknya tidak menarik ?”
Iblis: “biarpun sudah usang, alat ini masih bekerja dengan SANGAT BAIK, alat ini sudah AUS karena sering aku pakai, bentuknya sederhana karenanya mudah digunakan. harganya mahal sekali, karena alat ini berdaya guna tinggi. Aku bisa dengan MUDAH masuk kedalam HATI manusia dengan alat ini deibandingkan alat yang lain, begitu aku sudah masuk ke dalam hati manusia, maka aku akan dengan MUDAH MELAKUKAN apa saja yang aku inginkan pada manusia. Aku sudah SERING menggunakan alat ini, karenanya alat ini menjadi aus….tapi lihat hasilnya: berapa banyak manusia mengakhiri hidup dalam kesia-siaan ? berapa banyak mereka telah lari dari Tuhannya ? Berapa banyak mereka telah menjual Iman ? Berapa banyak manusia menjadi gelap mata dan menghalalkan segala cara ?
Kebanyakan manusia tidak menyadari bahwa PUTUS ASA itu adalah MILIKKU !

Categories
Kisah Inspiratif

Sandal Raja

2015-03-27_01.02.31[1]

Ketika berkunjung ke Karaton Yogyakarta, saya melihat seluruh abdi dalem bertelanjang kaki. Ketika ditanya, kenapa betelanjang kaki? dijawab hanya Raja yang pantas beralas kaki. Saya jadi teringat kisah awal tentang Sandal Sang Raja.
Begini….
Alkisah suatu ketika seorang raja memutuskan untuk meninjau wilayah kerajaannya. Sang Raja memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru melangkah beberapa meter dari istana, kaki sang Raja tersebut tertusuk duri. Marahlah sang Raja, segera di panggillah seluruh pegawai Kerajaan dan sang Raja memerintahkan agar seluruh jalan dikerajaan dilapisi karpet dari kulit binatang. Seluruh pasukan bersiap untuk berburu, sebelum berangkat tiba-tiba penasihat kerajaan berbisik pada sang raja: “Maaf, baginda. Berapa binatang yang dibunuh? Bukankah lebih arif jika kaki baginda saja yang dibungkus kulit ? “ Sang Raja dengan kearifannya, terdiam dan sadar, kemudian memerintahkan pembatalan perburuan. Konon kabarnya, demianlah asal mula dibuatnya sandal kulit … Serupa dengan kisah sandal kulit itu, begitulah yang sering terjadi pada kita. Kebanyakan dari kita, ingin memusnahkan hal-hal yang menjengkelkan dari luar. Ada karyawan yang yang ‘menjengkelkan’, maka kita sekuat tenaga berusaha menyingkirkan, ada rekan yang tidak sejalan kita anggap sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Seperti halnya kulit yang menutupi kaki sang Raja, kenapa kita tidak menutupi pikiran kita dengan kesadaran dan kesabaran ?

Categories
Kisah Perjalanan

Ambon Manise: Penyesalan

Ini adalah lanjutan dari ambon manise: sepotong hati tertinggal di sini dan merupakan catatan perjalanan terakhir saya selama di kota Ambon.

Hari 3

Ini adalah hari ketiga saya di Ambon, selepas menikmati sarapan di penginapan saya beranjak untuk bersiap jalan-jalan. Oya, penginapan di Ambon harganya bervariasi mulai dari 75 ribu permalam hingga 150 ribu. Hotel juga banyak tersebar di Ambon mulai harga 280 ribu hingga kisaran juta. Mau gratis? Ada juga, di tengah kota tepatnya di deretan jalan Ambon Plasa terdapat toko barang antik yang menyediakan tempat menginap gratis bagi backpaker. Saya sendiri memilih penginapan seharga 130 ribu per malam dengan fasilitas kamar TV, AC, kasur pegas (spring bed), kamar mandi dalam yang bersih dengan air panas dan masih ada fasilitas sarapan pagi berupa kue-kue dan satu teko teh panas! Tak cukup itu saja, di depan kamar terdapat dispenser panas-dingin yang bisa dipakai bersama dengan penghuni kamar lain. Benar-benar pelayanan yang membuat saya terkesan.

Setelah seharian kemarin menyusuri pantai-pantai, hari ini agenda utama adalah berburu oleh-oleh 😀 Saya sebenarnya bukan tipikal orang yang suka membeli oleh-oleh ( banyak kerabat yang mengatakan ini adalah kalimat lain untuk kata “Pelit”). Sebenarnya bukan soal Pelit, kenapa saya enggan membeli oleh-oleh, namun lebih ke soal ribet dan dengan kecanggihan teknologi sekarang kita bisa belanja apapun cukup dari kursi kita dengan sekali ‘klik’ (OL Shop, layanan Jasa Antar Kilat dan lain sebagainya). Namun tak semua barang ‘aman’ diantar kilat (tak semua barang bisa menggunakan Jasa Antar Kilat) dan dijual di OL Shop, misalnya barang kimia. Selain itu, bersentuhan langsung dengan barang yang kita inginkan juga menjadi sensasi tersendiri saat berbelanja, disamping proses tawar menawar dengan penjual (duuuh…..ibu-ibu banget yah J ).

Di kota Ambon, banyak sekali Rumah Kopi (bukan Kafe (Coffe Shop) modern seperti yang selama ini saya kenal) tapi semacam Rumah Makan sederhana dengan menu utama Kopi, khas Melayu. Bagi pencinta kopi, anda akan dimanjakan dengan hal ini.

Kembali ke oleh-oleh….saya termasuk orang yang praktis dan tidak mau ribet (baca: tidak suka pergi ke banyak toko untuk membandingkan barang), karena itu saya ‘mempercayakan’ (duuuh bahasanya ini loh…) kepada toko Petak 10.

Toko ini menurut saya paling lengkap oleh-olehnya, ada aneka monel (gelang, kalung, cincin), ada juga aneka perhiasan dari mutiara laut asli, aneka batik, aneka kaos khas Ambon, aneka kain tradisional Ambon (tenun) dan yang pasti khas Ambon adalah kue kenari dan tentu saja hasil rempah Ambon (Maluku) seperti kayu putih dan minyak cengkeh.

Sebenarnya banyak tempat yang menjual oleh-oleh khas Ambon ini, misalnya toko di perempatan jalan depan Masjid Al Fatah (kalau tidak salah nama tokonya: Hidayah). Kemudian minyak kayu putih dan minyak cengkeh bahkan banyak di jual disepanjang jalan. Jika anda merasa bingung, jangan khawatir anda bisa bertanya kepada tukang becak dan tukang ojek atau penduduk setempat. Jangan takut dibohongi atau ditipu, orang-orang Ambon lebih jujur daripada politisi busuk di Jakarta. Pengalaman saya sudah berkali-kali membuktikan. Seperti pagi itu, saya menyapa salah satu Bapak penarik becak dan bertanya, “ Ke Toko oleh-oleh petak 10, berapa pak?”

“7000”

“Kalau sekalian balik sini berarti 14 ribu ya?”

“iya, pak”

Nah…meluncurlah kami ke toko oleh-oleh, sepanjang jalan saya bertanya banyak hal ke bapak penarik becak. Bagi saya Ambon dan orang-orangnya sangat menarik, saya banyak bertanya hal-hal yang mungkin seringkali luput dari perhatian pelancong, misalnya: kenapa banyak rumah dan mobil angkot serta beberapa tempat bertuliskan ‘holland’ ? Kenapa Orang Ambon suka bernyanyi dan suaranya bagus-bagus ? Kenapa gadis-gadis Ambon rata-rata langsing dan …ehm manis manis? Semuanya itu ada kisahnya, ada ceritanya! Sangat menarik, mungkin kapan-kapan saya harus menceritakannya. J Kali ini saya akan menceritakan tentang becak! 😀 Saya perhatikan becak di Ambon ini unik sekali, bukan bentuknya, tapi warna dan tulisannya. Ternyata, becak di sini diatur operasionalnya berdasarkan hari tertentu. Misalnya, becak bertulis Senin-Kamis berwarna putih maka hanya boleh operasional hari Senin dan Kamis saja. Hal ini sangat dimaklumi mengingat jalanan kota Ambon yang tidak terlalu lebar dan lalu lintas yang cukup sibuk terutama di jam-jam tertentu.

Di toko oleh-oleh saya membeli kain tenun, kaos, syal tenun, Minyak kayu putih, minyak cengkeh dan tentu saja aneka kue kenari. Di toko petak ulu 10 ini, untuk kue kenari ada paket-paketnya jadi bisa disesuaikan tergantung budget. Misalnya paket 200 ribu, 300 ribu dan lain-lain. Bisa juga beli eceran mulai harga 20 ribu. Untuk harga kaos mulai harga 80 rb-100 rb, kain tenun rata-rata 700 rb, syal tenun 80 ribu. Perhiasan mutiara harga juga bervariasi. Puas berbelanja, saya tidak langsung seperti kembali, saya putar-putar kota dengan becak. Saya minta diantar ke pembangunan Jembatan Merah Putih, jembatan yang melintasi teluk Dalam Ambon. Jembatan megah yang diproyeksikan selesai pada tahun 2014 mendatang.

Jembatan ini menghubungkan Galala Poka-Ambon yang bisa mempersingkat waktu tempuh dari kedua tempat itu dari sekitar 1,5 jam menjadi sekitar 20-30 menit, sehingga akses ke Bandara Internasional Pattimura di Teluk Ambon menjadi lebih cepat. Lokasi bandar udara kota Ambon ini cukup unik, persis di ujung Teluk Ambon di mana sisi yang lain terletak Kota Ambon. Pemakai jasa penerbangan bisa mencapai Bandar Udara Internasional Pattimura melalui jalan darat menyusuri Teluk Ambon atau memotong perairan teluk itu memakai perahu cepat. Ongkos naik perahu cepat sekitar Rp 7.000, 00

Ambon memang terus berbenah dan mempercantik diri, tak heran banyak event skala nasional di selenggarkan disini, misalnya MTQ Mahasiswa Nasional, Pesparawi tingkat Nasional dan Festival Jazz (AJPF, Ambon Jazz Plus Festival) yang bukan hanya di ikuti oleh artis-artis Jazz dari dalam negeri saja namun juga dari mancanegara seperti Amerika dan Singapura.

Hari ketiga saya di Ambon ini sekaligus hari penyesalan terbesar saya, penyesalan pertama saya adalah saya tak bisa tinggal lebih lama lagi L penyesalan berikutnya adalah saya tidak membawa kamera yang memadai untuk mengabadikan keindahan alam dan pesona Ambon. Semua gambar saya ambil dari HP butut saya, andai membawa kamera yang lebih memadai pastilah keindahan Ambon akan terekam sempurna. Namun saya meyakini, suatu saat nanti pasti akan kembali, karena sepotong hatiku masih tertinggal di sini. Di Ambon Manise.

Categories
Kisah Inspiratif

Kisah #Anjing Kecil

Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggilnya. Kata kuda itu : “Kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang lainnya, sebab saya bisa mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang sekecil kamu tidak akan bernilai sama sekali baginya”, ujarnya dengan sinis.
Anjing kecil itu menundukkan kepalanya dan pergi, lalu dia mendengar seekor sapi di kandang sebelah berkata : “Saya adalah binatang yang paling terhormat di sini sebab nyonya di sini membuat keju dan mentega dari susu saya. Kamu tentu tidak berguna bagi keluarga di sini”, dengan nada mencemooh.
Teriak seekor domba : “Hai sapi, kedudukanmu tidak lebih tinggi dari saya, saya memberi mantel bulu kepada pemilik ladang ini. Saya memberi kehangatan kepada seluruh keluarga. Tapi omonganmu soal anjing kecil itu, kayanya kamu memang benar. Dia sama sekali tidak ada manfaatnya di sini.”
Satu demi satu binatang di situ ikut serta dalam percakapan itu, sambil menceritakan betapa tingginya kedudukan mereka di ladang itu. Ayam pun berkata bagaimana dia telah memberikan telur, kucing bangga bagaimana dia telah mengenyahkan tikus-tikus pengerat dari ladang itu. Semua binatang sepakat kalau si anjing kecil itu adalah mahluk tak berguna dan tidak sanggup memberikan kontribusi apapun kepada keluarga itu.
Terpukul oleh kecaman binatang-binatang lain, anjing kecil itu pergi ke tempat sepi dan mulai menangis menyesali nasibnya, sedih rasanya sudah yatim piatu, dianggap tak berguna, disingkirkan dari pergaulan lagi…..
Ada seekor anjing tua di situ mendengar tangisan tersebut, lalu menyimak keluh kesah si anjing kecil itu. “Saya tidak dapat memberikan pelayanan kepada keluarga disini, sayalah hewan yang paling tidak berguna disini.”
Kata anjing tua itu : “Memang benar bahwa kamu terlalu kecil untuk menarik pedati, kamu tidak bisa memberikan telur, susu ataupun bulu, tetapi bodoh sekali jika kamu menangisi sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan. Kamu harus menggunakan kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk membawa kegembiraan.”
Malam itu ketika pemilik ladang baru pulang dan tampak amat lelah karena perjalanan jauh di panas terik matahari, anjing kecil itu lari menghampirinya, menjilat kakinya dan melompat ke pelukannya. Sambil menjatuhkan diri ke tanah, pemilik ladang dan anjing kecil itu berguling-guling di rumput disertai tawa ria.
Akhirnya pemilik ladang itu memeluk dia erat-erat dan mengelus-elus kepalanya, serta berkata : “Meskipun saya pulang dalam keadaan letih, tapi rasanya semua jadi sirna, bila kau menyambutku semesra ini, kamu sungguh yang paling berharga di antara semua binatang di ladang ini, kecil kecil kamu telah mengerti artinya kasih………”
Jangan sedih karena kamu tidak dapat melakukan sesuatu seperti orang lain karena memang tidak memiliki kemampuan untuk itu, tetapi apa yang kamu dapat lakukan, lakukanlah itu dengan sebaik-baiknya…..
Jangan sombong jika kamu merasa banyak melakukan beberapa hal pada orang lain, karena orang yang tinggi hati akan direndahkan dan orang yang rendah hati akan ditinggikan.

Categories
Kisah Perjalanan

Ambon Manise: Sepotong Hati Tertinggal di Sini

Ini kali kedua saya menginjak Ambon, tidak banyak yang berubah dari Ambon. Pagi seetibanya di Bandara saya sudah di jemput abang ojek yang dulu menjemput saya,ketika pertama kali ke Ambon. Bang Ferdy namanya. Abang yang satu ini asli Ambon dan mengenal kotanya dengan baik. Bak sudah kenal lama dengan saya, si abang mengantar ke penginapan yang dekat dengan Masjid Raya Al Fatah, masjid yang termegah di kota Ambon.

“Nah, mas Budi kalo mau ke masjid buat sholat tinggal jalan saja” katanya.

Satu hal yang saya syukuri, walaupun berbeda agama, bang Ferdy justru yang mengingatkan saya untuk tetap berjamaah. “Boleh jauh dari keluarga, tapi jangan Jauh dari Tuhan”

Bang Ferdy ini pula yang saya manfaatkan jasanya sebagai guide selama saya diambon.

Setelah menaruh barang di penginapan tujuan pertama kami adalah Pantai Natsepa! Pantai yang terkenal dengan rujaknya 😀 Ya, saya lebih mengenal pantai ini dengan rujaknya yang dijual di sepanjang jalan menuju pantai atau di pinggir pantai pasir putihnya. Sayang pantai masih sangat sepi ketika kami tiba disana, maklum kami tiba pukul 08 kurang waktu setempat. Selepas menikmati pantai yang sepi, kami bertolak ke Patung Martha Christina Tiyahahu sekaligus melihat kota Ambon dari atas. Amboi memang indah kota Ambon ini.

Menjelang siang, kami kembali menuju ke kota. Tujuan saya, saya ingin merasakan kuliner ikan Bakar di salah satu sudut jalan di kota Ambon. Saya agak lupa nama gangnya, kalau tak salah gang Arab. Disepanjang jalan itu orang berjualan ikan bakar. Saya memilih warung milik Rudy Lombe, saya memilih warung ini dengan pertimbangan yang menurut saya agak konyol, yaitu: Warungnya tidak menyediakan bir seperti warung sebelah. Hahahahaa 😀

Disinilah saya kembali menikmati ikan Lema bakar dengan colo-colo yang segar itu…

Selapas makan siang, saya dan bang Ferdy berpisah. Saya melanjutkan jalan ke masjid Al Fatah dan bang Ferdy pulang ke rumah.

Malamnya, gairah jalan-jalan saya masih menyala. Selepas menikmati ikan bakar (yang tak pernah bosan saya makan) saya berjalan menyusuri kota Ambon menuju Gong Perdamaian.

Gong Perdamaian terletak di depan Kantor Gubernur Maluku.

Gong ini merupakan Gong Perdamaian ke-35 di dunia yang berada di Taman Pelita, dekat di pusat kota Ambon. Gong megah dan besar ini dibangun di kota Ambon tujuannya ingin memperbaiki citra Ambon yang dulu pernah identik dengan kerusuhan dan kekerasan.

Untuk bisa masuk ke wilayah gong ini, Anda cukup merogoh kocek sekitar Rp 5.000.

Gong Perdamaian Dunia memiliki diameter seluas dua meter dan berwarna keemasan. Selain dipenuhi dengan gambar bendera dari tiap negara, yang berjumlah sekitar 200 bendera, juga terdapat simbol tiap agama di dalam lingkarannya. Di tengahnya juga terdapat miniatur bumi dan bertuliskan ‘Gong Perdamaian Dunia’ pada bagian bawah, serta ‘World Peace Gong’ pada bagian atas lingkarannya.

Dengan disangga dua pilar raksasa, di atas gong ini juga terdapat lambang Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Tak sedikit traveler berkunjung ke tempat ini untuk berfoto dan melihat kemegahan Gong Perdamaian Dunia dari dekat.

Gong Perdamaian tersebut adalah gong yang berasal dari desa Plajan, Mlonggo, Jepara, Jawa Tengah. Kopnon katanya Gong tersebut merupakan duplikat dari Gong yang dibuat oleh seorang wali 450 tahun yang lalu dan digunakan untuk da’wah syiar Islam di lereng gunung muria. Gong Asli yang bernilai sakral tersebut adalah milik ibu Mursini, generasi ketujuh dari wali yang membuatnya. Sedangkan yang terpasang di Ambon adalah buatan Djuyoto Suntani warga lereng Muria, Jawa Tengah untuk dijadikan gong perdamaian dunia. sebagai satu-satunya sarana persaudaraan dan pemersatu umat manusia. Duplikat Gong Perdamaian Dunia telah dipasang secara permanen di China, India, Swiss, Helsinki (Finlandia), Maputo (Mozambik), Godollo (Hongaria) dan selanjutnya menyusul akan dipasang di gedung putih, Washington DC (Amerika), Caracas (Venezuela), Islamabad (Pakistan), London (Inggris), Berlin (Jerman), Paris (Perancis), Moskow (Rusia), Istanbul (Turki), Cape Town (Afsel), Madrid (Spanyol), Amsterdam (Belanda) dan tahun 2015 dipasang di seluruh dunia termasuk satu unit Gong Perdamaian Dunia akan dipasang di bulan.

Dari Gong Perdamaian saya ke Lapangan kantor Gubernur, wah malam-malam banyak orang berolahraga disana. Ada juga yang memanfaatkan untuk…..pacaran! 😀

Capek berkeliling saya kembali ke penginapan, besok rencana memulai lagi petualangan di Ambon.

HARI KE-2

Tak disangka, dimalam yang sama ketika saya berjalan-jalan ada kawan yang juga tiba di Ambon dari petualangan di pulau Buru. Kamipun janjian untuk sarapan pagi bersama, kali ini bukan ikan bakar. Kawan saya itu rindu masakan kampungya, jadilah kami mencari warung Coto Makasar. Selepas sarapan kami ngobrol dibawah patung Pattimura.

Patung Pattimura ini terletak di depan Kantor Gubernur Maluku, patung yang sekarang terbuat dari perunggu untuk mengganti patung lama. Konon ceritanya, patung yang lama tidak mau dipindah. Bahkan proses penggantian patungnya juga tidak semudah yang direncanakan. Bahkan dikabarkan patung yang lama menangis ketika diturunkan untuk diganti yang baru. Itu cerita yang kami dapatkan dari penduduk sekitar. Dari patung Pattimura, kami berpisah jalan.

Kawanku harus kembali ke Yogyakarta, sedang aku kembali berpetualang. Sesuai rencana, saya akan menyusuri pantai-pantai yang ada di Ambon, namun sebelum ke pantai saya ingin ke museum Siwalima terlebih dahulu.

Museum Siwalima adalah museum kelautan yang menyimpan aneka kekayaan laut Maluku dan juga sejarah dan budaya Maluku.

Dari Museum Siwalima, saya menuju ke Pantai Bethesda. Dinamakan pantai Bethesda, karena pantai ini dikelola oleh gereja Bethesda.

Pantai ini terkenal dengan lautnya yang jernih dan ‘ceburable’ alias mengundang orang untuk mencebur. Sayang, pantai ini belum dikelola dengan baik, sehingga pengunjung masih sedikit. Namun justru itu kelebihannya, pantai ini menjadi masih sangat alami. Setelah puas menikmati pantai Bethesda, saya menuju pantai Pintu Kota.

Pantai ini masih satu deret dengan pantai Bethesda. Bedanya, pantai pintu Kota terkenal dengan batu-batu karangnya. Disebut pantai pintu Kota, karena memiliki batu karang yang menyerupai pintu gerbang masuk kota. Sama seperti pantai Bethesda, pantai ini pun juga sedikit pengunjungnya. Namun hebatnya pengunjungnya justru orang-orang asing. Mereka tertarik untuk menyusuri batu karang dan goa-goa yang ada di sekitar pantai pintu kota. Pantai pintu Kota dapat juga dilihat dari atas bukit. Diatas bukit ini kita bebas melihat ke laut lepas. Untuk naik ke atas bukit, terdapat anak tangga yang cukup untuk membuat “ngos-ngosan” orang yang jarang berolahraga seperti saya.

Tak bosannya saya menikmati udara dan suasana pantai yang segar, hingga rintik gerimis memaksaku untuk beranjak. Saya pulang ke penginapan.

Categories
Kisah Inspiratif

CERMIN ANAK

Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama yang meriah, dengan pemain yang semuanya siswa. Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang mereka perankan. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas.

Di depan panggung, semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan guru kerap terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.
Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka terpilih menjadi pemain drama yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak Guru akan menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa,membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik. Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama. Ahha… ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah-lah yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. “Aku menang…”, begitu ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling, menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga. Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit bertanya kepada sang juara, “Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik..” tanya Pak Guru.
“Coba kamu ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini…”
Sang anak menjawab, “Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah saya di rumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah-lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka, bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah.”
Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai melanjutkan, “…Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini, adalah peran yang mudah buat saya…”
Suasana Hening.
Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap. Begitupun kedua orangtua sang anak di atas panggung, mereka tampak tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini keadaannya  berubah. Seakan, mereka berdiri sebagai terdakwa, di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari itu.  Ada yang perlu diluruskan dalam perilaku mereka

Categories
Kisah Inspiratif

Pemerintah dan Kita ; Tukang Beras dan Tukang Roti

Diradio, televisi, koran dan media-media lain sering kita dengar banyak orang mengomentari kesalahan pejabat, pengusaha, anggota legislatif dan sebagainya, tetapi mengapa kecurangan, demi kecurangan terus saja terjadi?
Seorang tukang roti di sebuah desa kecil membeli satu kilogram beras dari seorang petani. Ia curiga bahwa beras yang dibelinya tidak benar-benar seberat satu kilogram. Beberapa kali ia menimbang beras itu, dan benar, berat beras itu tidak penuh satu kilogram.
Yakinlah ia, bahwa petani itu telah melakukan kecurangan. Ia melaporkan pada polisi dan memperkarakannya, dengan tuduhan : melakukan penipuan bisnis, dengan memalsukan berat beras yang dijualnya
Petani itu diajukan ke sidang pengadilan.
Pada saat sidang, hakim berkata pada petani, ” terdakwa, tentu kau mempunyai timbangan? Untuk menimbang berasmu ”
“Tidak, tuan hakim.” jawab si petani.
“Lalu bagaimana kau bisa menimbang beras yang kau jual?” tanya hakim kemudian..
Petani itu menjawab “ah…itu mudah sekali dijelaskan, tuan hakim. Untuk menimbang beras seberat satu kilogram itu, aku gunakan saja roti seberat satu kilogram yang aku beli dari tukang roti itu sebagai penyeimbang.”
Cukup banyak contoh, bahwa kita mudah menyalahkan orang lain untuk berperilaku lurus, namun kita sendiri tidak melakukannya.
Kawans, mari besegera mempebaiki keadaan dengan mulai dari diri sendiri, kita mulai dari apa yang kita bisa, dan kita mulai sekarang juga.

Categories
Kisah Inspiratif

ARLOJI dan SERBUK KAYU

Seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu.
Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut.
Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya.
Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. Teman-teman karyawan yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.
Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira.
Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Kini cuman dia seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu ‘Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?’
Tanya si tukang kayu.
Anak itu menjawab: ‘Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi ‘to-tak, tok-tak’. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada.’
Kawans, tahukah anda bahwa problema yang kita hadapi akan berkurang seperempat hanya dengan membiarkan diri duduk secara tenang?
Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam ‘kegaduhan’.

Categories
Kisah Inspiratif

Tukang Kulkas Nan Mahal

Sering kita mendengar orang berkata : “Apa sebenarnya kehebatan Manager itu, yang dilakukan setiap hari hanya meeting ke meeting, rasanya nggak ada yang hebat, gitu gajinya besar”, mereka yang sirik menambahkan “itu hanya karena kedekatannya dengan bos. Dari pada terjebak membicarakan orang lain, mari kita belajar dari cerita ini.

Pagi hari ketika seorang ibu akan menyiapkan sarapan suami dan anaknya, terperanjat bercampur jengkel karena makanan basah di Kulkasnya basi, rupanya sejak tadi malam kulkas itu rusak dan mati.
Pagi itu juga dia lihat buku telepon, dia hubungi Tukang servis Kulkas, setengah jam kemudian datanglah tukang itu. Pertama dia mengamati dan memeriksa semua bagian kulkas itu, Dia lihat dimana sebenarnya masalahnya, setelah yakin berkatalah tukang itu “Ibu.. apakah ada handuk yang tak terpakai..?
Sambil mengambil handuk ibu ini keheranan, kalau tukang servis kan alatnya obeng, tang dan sebagainya, mengapa orang ini minta handuk…. Aneh” pikirnya. Segera Tukang ini membungkus tangannya dengan handuk, dan dipukulkan ke titik yang tadi telah dianalisa, dan kulkas itu kembali normal.
Setelah ditunggu lama dan kulkas itu tetap berjalan normal, maka ibu itu bertanya “berapa ongkosnya ?..”. “Semua tiga ratus ribu bu” jawab tukang itu. Si Ibu yang merasa kemahalan berkata “Pak, boleh tahu rinciannya untuk biaya apa saja ongkos sebanak itu”.
Begini bu…., Sepuluh ribu untuk biaya memukulnya dan Dua ratus sembilan puluh ribu untuk biaya menganalisa dan menentukan titik mana yang harus di pukul
Seseorang layak dibayar mahal bila dia mampu menganalisa dan menetapkan urutan prioritas mana yang harus diperbaiki, dan baru bertindak, seringkali tindakannya ini kelihatannya hampir sama dengan orang rata-rata lain, namun karena lebih tepat sasaran maka mampu meningkatkan kinerja timnya.

Follow : @budiwee on twitter!

Categories
Kisah Inspiratif

Akal si Kecil

Siang itu truk berukuran yang membawa barang dengan ukuran besar dengan tinggi yang lebih dari dari biasanya, tersangkut ketika melewati viaduck.  Kesulitan yang dihadapi adalah bagaimana mengeluarkan dari tengah viaduck ini, karena posisi truk ini berada di tengah-tengah, jadi apakah mundur atau maju maka tetap saja barang yang diangkutnya akan rusak.

Ketika sopir itu mulai kebingungan dan kuatir barang yang dibawanya rusak, maka dia lmenelpon kantornya, kemudian datanglah bosnya untuk memikirkan bagaimana menyelematkan barang itu.

Kemungkinan pertama barang itu dicoba di urai pasangannya sehingga menjadi  lebih kecil, namun setelah dicoba tidak bisa.  Kemudian dicoba untuk pelan-pelan dimiringkan, ternyata tidak bisa juga.  Waktu terus berjalan sudah 4 jam berbagai usaha dilakukan tetapi semuanya sia-sia, sedangkan kemacetan lalu lintas semakin memanjang, polisi pengatur lalu lintas pun terus mendesak agar segera diselesaikan.

Dalam keputus asaan, tiba-tiba seorang anak kecil, yang pernah punya pengalaman yang sama dengan sepedanya mendekat dan mengatakan : “ Bagaimana kalau kita kempeskan saja bannya pak”

Benar, setelah dikempeskan semua ban maka posisi truk menjadi rendah, dan pelan-pelan truk itu dapat melewati viaduck itu, dan kondisi barang tetap utuh, dengan sedikit kerusakan saja.

“Rupanya orang-orang dewasa dan berpendidikan tinggi itu kalahnya dengan anak kecil saja ya…..” gumam beberapa orang yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu.

Sahabat, jangan meremehkan pendapat anak kecil atau orang berpendidikan rendah, karena seringkali, mereka memiliki sederhana namun dapat memecahkan masalah yang ada.