Love Alarm: Cinta itu seperti Menunggu Bis

2121b2cd-f253-40e2-a44c-d6d9c2eef971

Cinta itu sama seperti orang yg sedang menunggu bis. Sebuah bis datang, dan kamu bilang: “Wah..terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman neh! Aku tunggu bis berikutnya aja deh.”

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata: “Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah..”

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang: “Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku”.
Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.

Waktu terus berlalu,kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor. Ketika bis kelima datang,kamu sudah tak sabar,kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju! Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.

Sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar ‘ideal’ untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia. Tidak ada salahnya memiliki ‘persyaratan’ untuk ‘calon’, tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat tapi kamu masih bisa berteriak ‘Kiri’ ! dan keluar dengan sopan. Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi, kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu, agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.
Kebahagiaan tidak diperoleh dari seberapa banyak yang kita dapat. Tapi kebahagiaan itu diperoleh dari seberapa besar kita bisa menerima.

Lalu bis seperti apa yang kamu tunggu? 🙂

When love and ego collide

janjikuno

Sekilas tema ini mengingatkan lagunya Def Leppard: “When Love and Hate Collide” lagu top di era 90-an. Era ketika saya baru lahir. belum kenal cinta, baru kenal ASI…..

Baiklah…kita gak akan bahas usia. Remaja seperti saya ini terlalu kurang ajar jika menyinggung soal usia. 🙂

Okay, abaikan kata ‘hate’ mari kita ngobrol tentang ego.

Menurut Sigmund Freud (bapak Psikoanalisa), Ego merupakan satu dari tiga elemen kepribadian disamping ID dan Super Ego. Ego menurut Freud diartikan sebagai perkembangan dari id yang diselaraskan dalam dunia nyata (realitas) dalam bahasa sederhana Ego adalah proses penyaluran id menurut waktu, tempat dan kondisi yang sesuai (selaras dengan kenyataan). Bingung ?  nah kita sederhanakan saja makna Ego menurut pengertian umum yang selama ini kita pahami, yaitu aku atau keakuan. Sehingga orang yang mementingkan keakuannya tanpa melihat waktu, tempat dan kondisi disebut egois.

Nah…apa jadinya saat cinta berbenturan dengan ego ?

Pada dasarnya ego itu menuntut untuk dipuaskan (dipenuhi), jika ego seseorang tersentuh/tersentil atau tercubit bahkan terinjak maka akan muncul reaksi yang disebut sebagai mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism). Mekanisme pertahanan diri ini tiap orang berbeda-beda bentuknya bisa represi (menekan) atau penyangkalan.

Ego itu dimiliki semua orang, baik lelaki maupun perempuan. Sedangkan egoisme bergantung pada individu dalam menyikapi egonya. Meski pria dan wanita sama-sama berpotensi menjadi egois karena sama-sama memiliki ego, namun pandangan umum menyebut bahwa laki-laki lebih egois. Tidak adil? Emang…. :p

Tapi ada penjelasannya koq….kita semua tahu wanita adalah makhluk perasa (emosional) sedang laki-laki adalah makhluk pemikir (logis). Saat terjadi kesalahpahaman biasanya perempuan akan mengedepankan sisi emosionalnya…perempuan akan merasa tidak dihargai, harus selalu mengalah dan jadi ‘korban’. Nah saat emosi seperti itu, justru sisi “logis” perempuan akan muncul, dia akan menjadi sosok yang “penuh perhitungan”. Dia akan menghitung: selama ini aku tidak pernah menuntut macam-macam, aku selalu mengalah, dan sebagainya. Iya. Semua yang pernah dilakukan akan dihitung..

Merupakan hal yang wajar setiap orang ingin dihargai, dipahami, dan didengarkan. Semua hal tersebut ada pada Pria maupun Wanita. Jadi, bisa dikatakan bahwa Pria dan Wanita adalah dua makhluk yang sama – sama berpotensi menjadi egois. Akan tetapi cara mereka mengeluarkan ke-ego-annya dan kadarnya itulah yang berbeda. Jujur…lelaki kadar egonya lebih tinggi dan seringkali mengeluarkan egonya disaat yang tidak tepat yang pada akhirnya membawa penyesalan. Kenapa bisa ? Mayoritas masyarakat kita masih menganut budaya patriarki, sebuah sistem sosial yang menempatkan lelaki sebagai otoritas utama dalam hubungan sosial. Namun disadari atau tidak, hal ini seringkali terbawa dalam hubungan personal, bahkan dalam hubungan intim individu antara pria dan wanita. Pria merasa lebih tinggi, lebih memiliki otoritas. Karenanya, ketika cinta (sebuah hubungan) berbenturan dengan ego, biasanya lelaki jarang yang mau menurunkan egonya.  Walaupun, pria juga sadar sebuah hubungan yang sehat, selayaknya dibangun atas dasar kesetaraan kedudukan. Namun ‘pandangan’ umum bahwa laki-laki harus ‘diatas’ wanita menyilaukan lelaki untuk melihat bahwa ada kebenaran dalam setiap argumen yang dilontarkan pasangannya. Apalagi jika disertai keengganan untuk mendengar. Good luck aja… :p

Kemampuan mendengar menjadi hal penting untuk ‘menaik turunkan’ ego, seringkali permasalahan menjadi makin suram karena kita enggan untuk mendengar…dan ini sebenarnya juga termasuk ego! Yups. Ego manusia itu termasuk keinginan untuk selalu didengar, dihargai, dihormati. Padahal dengan mendengar setidaknya separuh persoalan sudah berkurang, sebab seringkali pasangan kita hanya butuh untuk dikuatkan, hanya butuh didengarkan. Sayang sekali tak semua orang memiliki ‘telinga’ yang sanggup untuk mendengarkan pasangannya, dan diakui atau tidak lelaki memiliki telinga yang lebih ‘tipis’ dari perempuan. Jadi para lelaki biasanya jarang memiliki kemampuan mendengar yang baik, terutama jika menyangkut kritikan yang ditujukan kepadanya.

Sebagai lelaki, saya mengakui koq…telingaku tipis untuk mendengar kritikan  tapi bukan berarti tidak bisa dikritik. Lelaki tetap mau dan bisa dikritik selama ego-nya tidak jatuh. Nah balik lagi ke soal ego kan?   😀   Emang harus diakui, soal naik dan nurunin ego perempuan lebih jago. Contoh: lelaki akan sulit dikritik secara langsung, misalnya: Mas, jangan nge-Twit yang jorok dong. Lelaki akan lebih bisa menerima jika diawali dengan kata misalnya: mas, aku boleh omong sesuatu? Baru kemudian disampaikan, mas jangan ngetwit jorok dong….

Tujuannya sama, tapi cara yang kedua lebih mengena. Lelaki memang suka dipuja dan dimanja oleh pasangannya. Sehingga ada ungkapan Lelaki tak pernah bisa jadi dewasa selamanya.

Girls, begitulah cara kami takluk. Dipuja dan dimanja alias di elus egonya, dibuat nyaman. Karena lelaki itu sesungguhnya rapuh dibalik sikapnya yang angkuh. (duuh….ini sebenarnya rahasia).

Ketika cinta dan ego berbenturan, disitulah kemauan menaik turunkan ego diuji. Nurunin ego itu bukan soal yang mudah loh…namun kembali lagi, seberapa berharganya cinta, sebesar itu pula perjuangannya untuk mempertahankan. Dan modal utamanya adalah, kemauan untuk mendengarkan.

hujan bulan Mei

hujan bulan mei

kata orangtua dulu,  Mei adalah bulan tanpa hujan. Mei artinya Mrei alias libur.

hujan hanya akan menyapa dibulan bulan yang mengandung huruf R. sebab R itu berarti RAIN. hujan akan setia hadir mulai september hingga April. Selebihnya ia akan libur.

tapi mei tahun ini, sepertinya hujan tak lagi setia pada bulan yang mengandung huruf R saja, buktinya bulan Mei tahun ini hujan masih sering hadir menyapa.

kenapa?

apakah cuaca tak lagi bisa diduga?

apakah bumi makin tua?

oh tidak.

rupanya Tuhan menurunkan hujan untuk menyuburkan kenangan.

bukan…bukan untuk terus dikenang dan gagal move on.

tapi supaya tidak lagi terulang.

biarlah kenangan hanya menjadi kenangan.