Categories
Uncategorized

Kisah Segelas Beras

Suatu ketika mobil pengangkut beras tiba di sebuah toko, orang-orangpun datang berebut untuk membelinya terjadilah antrian panjang di toko pedagang beras.
Tibalah giliran seorang wanita tua miskin, dengan tangan gemetar ia menyodorkan gelas plastik yang dibawanya kepada si penjual beras.

Wanita tua itu berkata : “aku tidak mampu membeli berasmu, sudikah engkau bersedekah untukku dengan segelas beras saja.?”
Dengan suara keras, penjual beras berkata “Tidak, aku tidak bisa memberimu segelas beras!!.”

Tetapi kemudian penjual beras itu menyuruh pembantunya untuk membawa sekarung beras dan mengantarkannya ke rumah wanita tua itu
Wanita tua tersebut menerima-nya dengan mata berkaca-kaca karena tidak percaya apa yang telah terjadi, air mata bahagia mengalir deras di pipi keriput-nya.
Seorang pembeli yang tadinya antri di belakang wanita tua bertanya pada si penjual beras “Pak..bukankah yang diminta wanita tua itu hanya segelas beras, mengapa bapak memberinya sekarung beras..?”
Dengan lembut, penjual beras berkata:
“Itu krn ia meminta sesuai dgn kebutuhanya sedangkan aku memberi sesuai kemampuanku Aku melakukan itu krn begitu pula yg Allah lakukan kpd ku selama ini
Setiap kali meminta kpd Nya apa yg kuinginkan, Ia selalu memberiku berdasarkan kuasaNya”

“Dan pemberian-Nya bukan hanya sekedar cukup, melainkan selalu lebih dari cukup
Allah memberi apa yang aku butuhkan, lebih dari sekedar apa yang aku inginkan”

Semoga bermanfaat 🙏🏿

Categories
Kisah Inspiratif

Hadiah Sang Kaisar

Jika kenal darimana berasal, PASTI tahu alamat pulang.
Jika kenal darimana berasal, PASTI tahu alamat pulang.

Al kisah, setelah diselamatkan dalam sebuah peperangan, seorang Kaisar berterima kasih pada salah seorang prajuritnya, dan berkata apabila prajuritnya itu bisa naik kuda dan menjelajahi daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya itu sebagai hadiah. Kontan si prajurit itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.

Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin. Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Dan memang dia telah mendapatkan tanah yang luas, tapi itu tidak menghentikannya untuk terus memacu kudanya.

Hingga akhirnya, kudanya mati tersungkur karena kelelahan, dan ia terpelanting , kelelahan dan hampir mati. Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, “Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat, dan aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri.”

Begitulah kehidupan kita… Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri. Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan sekitar kita, hal-hal yang ingin kita lakukan, dan bahkan kehidupan spiritual kita. Seringkali jiwa kita kelaparan tanpa makanan (baca: siraman rohani). Dan ketika kita menoleh kebelakang, semuanya menjadi terlambat. Sesungguhnya kita tidak membutuhkan yang sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu atas semua yang tidak sempat kita lakukan.

Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita mati besok. Kita semua saat ini sedang antri didepan pintu kematian, tapi kita tak pernah tahu berapa nomor antrian kita.

Hidup ini bukan untuk hidup, tetapi untuk yang Maha Hidup (Al Hayy). Hidup bukan untuk mati, tetapi justru mati itulah untuk hidup. Oleh karena itu jangan takut mati. Jangan lupa mati. Jangan cari mati, tetapi rindukanlah mati. Karena mati pintu berjumpa denganNYA.

Belajarlah untuk menghormati dan menikmati kehidupan, dan yang terutama:
Mengetahui apa tujuan UTAMA kita di kehidupan ini. Seperti penyelam mutiara, yang dibekali sebuah tabung oksigen untuk menyelam, kemudian sang Majikan memerintahkan kita untuk terjun ke bawah laut dan mencari mutiara. Namun kita seringkali terpesona dengan keindahan bawah laut yang menakjubkan. Dan sampai- sampai pesona keindahan itu memalingkan kita dari tujuan utama kita. Hingga akhirnya kita sadar tabung oksigen mulai habis, dan saatnya kita kembali ke daratan untuk menghadap Sang Majikan. Apakah mutiara itu sudah kita dapatkan? Ataukah keindahan laut telah melenakan kita ?