Categories
Kisah Inspiratif

Hati-hati dengan Mie Ayam! (inilah kisah semangkok Mie)

mie ayam
sumber gambar: http://www.qraved.com/journal/wp-content/uploads/2015/02/img_3739.jpg google-site-verification=NFZy2JiHh3lZxpVk3SnorFNAskQKHfFh9lz8rm_G46c

Mie Ayam adalah makanan yang sangat populer di indonesia, Sudah bukan hal yang aneh melihat gerobak mi ayam di setiap sudut kota.
Namun, pernahkah Anda mencari tahu darimana asal muasal mi ayam? Mi ayam yang kini akrab dijadikan menu santap siang ataupun camilan petang saat lapar menyerang, sebenarnya merupakan “turunan” makanan khas China, bakmi. Nah…omong-omong soal Bakmi, ada kisah menarik tentang Mie ini.

Kisahnya seperti ini..

Malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai mie ayam dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk mi, tetapi ia tidak mempunyai uang. Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk mie?”

”Ya, tetapi, aku tidak membawa uang,” jawab Ana dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,” jawab si pemilik kedai.

“Silakan duduk, aku akan memasakkan mie untukmu.”

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk mie ayam. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

“Ada apa, Nona?” Tanya si pemilik kedai.

“Tidak apa-apa, aku hanya terharu,”jawab Ana sambil mengeringkan air matanya. “Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk mie ayam!, tetapi ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri,” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata, “Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk mie ayam dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak mie dan nasi untukmu saat kau kecil hingga saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Kau malah bertengkar dengannya.”

Ana terhenyak mendengar hal tersebut. “Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk mie ayam dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.”

Ana, segera menghabiskan mie nya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumah. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika melihat Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Ana, kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam. Makanlah dulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang.”

Mendengar hal itu, Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya. Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yang diberikannya pada kita. Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga), khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita musti berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

Hei…apa kabar ibumu hari ini ?

Categories
Kisah Inspiratif

Berguru Pada Ibu

Berguru Padas Ibu 7 Hari Ibu Sowan Gusti
Berguru Pada  Ibu
7 Hari Ibu Sowan Gusti

Hari ini adalah peringatan 7 hari berpulangnya Ibu ke Rumah Gusti Allah, dan hari ini pula saya lihat di beranda FB dan time line Twitter berseliweran pertanyaan tentang perbedaan Idul Adha.
Saya ingat betul, ibu saya tiap Minggu Pagi mengaji di kelompok pengajian Aisyiyah, ibu menyebutnya Jihad (pengaJIan aHAD), namun di tiap hari raya (idul Fitri dan idul Adha) tak sekalipun ikut kalender Muhammadiyah, ibu patuh pada kalender pemerintah. Suatu kali saya pernah menanyakan hal ini ke ibu, jawab beliau:
“Lha aku ini mengikuti lagu Mars Muhammadiyah, kamu kan sekolahnya di Muhammadiyah…coba apal lagunya, ndak? ”
dengan lirih saya nyanyikan Mars Muhammadiyah smp bait akhir :
…..Yaa Allah Tuhan Rabbiku
Muhammad Junjunganku
Al Islam Agamaku
Muhammadiyah Gerakanku

“Nah…itu sudah menjawab: Muhammadiyah itu gerakan. Bukan Ulil Amri, sedang kita diperintah taat hanya kepada Alloh, Rasul dan Ulil Amri..” kemudian ibu tertawa lepas. Belum sempat saya berucap, ibu kembali berkata:
“Le, agama itu pengamalan bukan perdebatan. Pengetahuan agamamu jauh diatas Ibu, kamu bebas menggenggam kebenaran yang kamu yakini. Sebebas kamu mau merayakan lebaran kapan saja, satu hal yang harus kamu ingat: Agama itu Pengamalan bukan Perdebatan, hindarilah perdebatan walaupun engkau dalam kebenaran”

Ah, Ibu sepertinya bisa membaca pikiran saya…saya tatap matanya dalam dalam, tak terasa setitik air bening menggenang di sudut mata saya. Perempuan yang selalu mengaku bodoh dan tak tahu apa-apa ini selalu luar biasa dimata saya.
Padamu Ibu, aku belajar makna Cinta.
Padamu Ibu, aku belajar tentang tabah.
Padamu ibu, aku belajar menjadi lelaki!

Selamat Jalan, Ibu…
Al Fatihah…

#BerguruPadaIbu

Categories
Kisah Inspiratif

IBUKU PEMBOHONG !

Ibuku Pembohong
Ibuku Pembohong

“Ibu, ndak papa koq…. Cuman kecapekan. Paling nanti tiduran bentar, minum teh anget sudah baikan” kata-kata itu yang selalu diulang ulang ibuku ketika kujenguk sore itu.

Mungkin ibu memang kecapekan, setelah sibuk melayani pelanggan di warung makannya, ibu beralih profesi menjadi “pelayan” bagi 2 jagoan yang menjadi “raja” baru di rumah ibu, ya..2 orang keponakanku itulah yang menjadi raja baru. Setiap kali berangkat kerja kakakku menitipkan jagoannya pada ibuku. Dan mereka hebatnya bukan main…. Dinding rumah adalah saksi kehebatan mereka, tak ada celah yang menyisakan warna asli dinding rumah. Setiap kali di bersihkan, setiap kali pula dua jagoan itu menggoreskan karya mereka disana, hingga akhirnya dibiarkan saja oleh ibu.

“Sudah ke Dokter, Bu? Saya antar sekarang, ya?” pintaku.

”Ndak usah..ibu ini ndak papa” tolak ibu.

Kudekati ibu, ku pijit-pijit kakinya. Badannya panas.

”Sudah, ibu ndak papa” elak beliau. Dan kulihat butiran bening, leleh di sudut matanya. Ya..ibuku menahan tangis. Begitulah ibuku setiap kali ”ketahuan” berbohong…dan kebohongan-kebohongan itu pula yang membuatku makin cinta pada ibu.

Sejenak pikiranku melayang, kembali ke masa-masa ketika aku tinggal bersama ibu. Tak terhitung berapa kebohongan yang telah ibu buat…

Saat tersisa sedikit makanan, ibu memberikannya padaku sambil berkata: ”Makanlah Le, ibu tidak lapar”. Aku tahu ibu sebenarnya perih menahan lapar.

Ketika aku sakit, ibu memberikan waktunya 24 jam penuh kepadaku tanpa letih. Setiap kali kubuka mata, ibu setia disampingku dengan senyumnya beliau berkata: ”Tidurlah Le, ibu nggak ngantuk”

Ibu juga senantiasa tersenyum menenangkan setiap kali kupinta uang bayaran sekolah, ” Ibu ada uang koq, tenang saja lusa pasti kita bayar” padahal setiap kali pula aku tahu Ibu mesti merendahkan diri untuk berhutang, demi aku.

Aku tahu semua kebohongan itu hanya untuk aku. Semuanya karena cintanya padaku. Kebohongan pula yang ibu tampakkan kepadaku, ketika kutanya dimana bapak? Mengapa ibu selalu mengurus segalanya sendirian? Aku tahu ibuku menyimpan luka. Dan ibu selalu membalut luka itu dihadapan anak-anaknya, tapi aku tahu luka itu selalu pecah menjadi tangis di sepertiga malam terakhir, saat ibu bersujud.

Sekarangpun, setelah aku menikah ibu masih setia dengan kebohongannya. Masih setia dengan senyum tenangnya. Dan semuanya itu karena cintanya padaku.

Ibu, betapa aku makin mencintaimu….

Categories
Kisah Inspiratif

Rahasia Telur Mata Sapi Ibu

telur

Hari ini istriku membuatkan sarapan pagi telur mata sapi diiringi ucapan : “Maaf ya, Yah. Mam hari ini tidak masak..”

Aku tersenyum, “Gak papa, mam. Ayah paling suka telur mata sapi”

Aku menyantap telur sapi dengan ingatan melayang ke masa kecilku dulu. Kami empat bersaudara dengan selisih usia masing-masing  2 tahun saja, terbayang betapa repot dan hebohnya ibu dalam mengurus kami. Kakak sulungku usianya 10 tahun dan masih duduk di kelas 4 SD, aku sendiri anak nomor dua dan duduk di kelas 2 SD, sedangkan adikku masih TK serta sibungsu baru berumur 4 tahun.

Semasa SD dulu, selain sebagai hidangan istimewa di rumah, ibu juga membekali kami dengan telur untuk dimakan di sekolah. Kadang ibu membuatkan telur mata sapi, kadang dadar dan kadangkal juga telur orak orik yang kami sebut dengan ‘telur kacau’ karena bentuknya yang tak karuan. Telur adalah menu termewah kami, selain menu harian kering tempe dan tahu bacem.

Seringkali saat istirahat sekolah, kami sembunyi-sembunyi memakan bekal kami, kami merasa bekal kami tak layak tampil diantara bekal teman-teman. Bekal kami rasanya seperti seorang putri berwajah pucat yang berada di pesta mewah para bangsawan. Tak guna rasanya berwajah cantik jelita, jika penampilannya pucat. Tidak menarik. Tak guna rasanya Ibu menjelaskan manfaat telur bagi tubuh dan otak. Kami bosan dengan bekal sekolah yang tak pernah berganti.

Suatu hari, ketika saat istirahat sekolah tiba, kakak terlambat menghampiri kami untuk makan di ‘persembunyian’. Terpaksa kali ini, kami harus makan di tengah teman-teman yang lain, terpaksa hari ini ‘si putri pucat pasi’ harus tampil di tengah tengah pesta meriah para bangsawan. Kami melihat bekal teman beraneka rupa, tampilannya elok mearik mata…hmmm…rasanya pasti juga nikmat. Diantara bekal yang dibawa teman-teman tersebut, kami melihat seorang teman membawa bekal ayam goreng tepung dengan saus merah meyala, kelihatanya enak sekali. Kami baru tahu ada ayam goreng dibungkus tepung seperti roti. Ah bolehlah sekali waktu kami berganti menu, kamipun ingin bisa menikmati Ayam goreng tepung seperti teman kami itu.

Esok harinya, saat ibu menyiapkan bekal kami dan lagi-lagi telur! Kami beranikan minta ke ibu untuk berganti menu. Kami ceritakan betapa menariknya ayam goreng yang dibungkus tepung seperti roti itu kepada ibu. Ibu menyimak cerita kami sambil tersenyum, kemudian berkata:

“kalian tahu kan ayam asalnya darimana? Dari telur bukan? Nah.. sekarang coba perhatikan ibu, kalau kalian pilih ayam, kalian hanya kan dapat sepotong kecil paha, sepotong kecil sayap atau malah sesuwir daging ayam karena harus dibagi berempat. Tapi, jika kalian pilih telur ayam, kalian akan dapat semuanya. Ingat, didalam telur ini ada kepala ayam, ada paha ayam, ada sayap ayam juga, semua lengkap. Nah…satu telur mata sapi ini sama nilainya dengan 1 ingkung ayam. Benar tidak ?”

Amboi….sungguh pintar ibuku ini. Kamipun ‘terpaksa’ manggut-manggut menyetujui pendapat ibu tersebut. Kami masukkan bekal kami ke dalam tas dan kami berangkat dengan keyakinan penuh bahwa bekal sekolah kami pagi ini adalah satu ekor ingkung ayam.

Bertahun kemudian… setelah masing-masing dari kami memiliki anak, kami memahami sepenuhnya bahwa 3 orang anak kecil usia SD ditambah dengan seorang bayi akan menyebabkan terguncangnya stabilitas ekonomi keluarga jika memaksakan diri menikmati Ayam goreng tepung roti. Kami berasal dari keluarga sederhana dan hanya mengandalkan Ayah sebagai penopang ekonomi keluarga, tapi kami memiliki ibu yang pintar. Ibu yang memiliki segalanya, kecuali satu hal yaitu RASA LELAH.

“Ayah…” suara istriku, menyadarkanku dari lamunan. Kuseka ujung mataku yang mulai tergenang air mata.

Ibu, tak banyak yang bisa kami lakukan untukmu, selain harapan dan doa:

Ibu, semoga kelak kami bisa menjawab pintamu, yang selalu kau hamparkan di atas sajadah di tiap sepertiga malam.

Categories
Mantra Cinta

CINTA TIDAK BUTUH PENGORBANAN

sepeda galuh

Itu yang aku pelajari dari ibuku sore ini. Sudah menjadi kebiasaan kami, setiap malam minggu kami berkumpul di rumah ibu. Anak-anak ibu 4 0rang dan semua sudah berkeluarga dan memiliki anak. Kami masih tinggal satu kota dengan ibu, walaupun berbeda kecamatan. Ketika semua cucunya berkumpul, diam diam ibu mengeluarkan hadiah untuk cucu cucunya. Entah dalam rangka apa ibu memberikan kejutan ini. Padahal kami semua tahu, ibu sedang tidak punya uang. Jumlah hadiah yang tidak sedikit, mengingat cucu ibu ada 4 orang. Darimana ibu memperoleh uang untuk membelinya? Ya, ibuku telah menjual satu-satunya cincin yang menjadi miliknya, hasil tabungan dari usaha beliau membuka warung. Kami semua diam ketika ibu membagi sepeda mini ke cucu cucunya.

“Pengorbanan Eyang Uti besar lho untuk membeli sepeda ini, dirawat yang baik ya” pesan adikku pada jagoan kecilnya.

“Bukan. Ini bukan pengorbanan. Aku tidak pernah merasa berkorban apapun. Aku melakukannya suka cita, karena aku mencintai kalian” sahut ibuku.

Tak ada yang dikorbankan. Semua berjalan ringan penuh suka cita.

Kami terdiam, meresapi kata-kata ibu. Hingga tanpa sadar butiran hangat mengalir dari sudut mata kami, menetes hingga pipi.

Ibu benar. Jika kami telah berpikir melakukan pengorbanan, sesungguhnya kami telah menciderai cinta itu sendiri. Cinta itu tak pernah menuntut, apalagi meminta pengorbanan. Karena jika sudah menuntut, bukan lagi cinta namanya, tapi TRANSAKSI. Cinta juga tidak membutuhkan alasan dan syarat. Ibuku bukanlah sosok wanita berpendidikan tinggi yang mampu mendefinisikan cinta dari berbagai teori dan sudut pandang keilmuan, bukan pula seorang trainer motivasi apalagi seorang pujangga yang hebat merangkai kata. Ibuku ‘hanya’ wanita desa biasa yang bahkan tak lancar menulis dan membaca.

Namun begitu, bagi kami, anak-anaknya ibu adalah Guru yang tak pernah digaji, sekolah yang hanya memiliki satu pelajaran: CINTA, dan memberi nama muridnya: Yang di Cinta.

Tak banyak yang bisa kami lakukan untuk beliau, selain harapan dan doa:

Ibu, semoga kelak kami bisa menjawab pintamu, yang selalu kau hamparkan di atas sajadah di tiap sepertiga malam.