ketika cinta dan ego berbenturan

Sekilas tema ini mengingatkan lagunya Def Leppard: “When Love and Hate Collide” lagu top di era 90-an. Era ketika saya baru lahir. belum kenal cinta, baru kenal ASI.

Baiklah…kita gak akan bahas usia. Remaja seperti saya ini terlalu kurang ajar jika menyinggung soal usia. 🙂

Okay, abaikan kata ‘hate’ mari kita ngobrol tentang ego.

Menurut Sigmund Freud (bapak Psikoanalisa), Ego merupakan satu dari tiga elemen kepribadian disamping ID dan Super Ego. Ego menurut Freud merupakan perkembangan dari id yang di selaraskan dalam dunia nyata (realitas) dalam bahasa sederhana Ego adalah proses penyaluran id menurut waktu, tempat dan kondisi yang sesuai (selaras dengan kenyataan). Bingung ?  nah kita sederhanakan saja makna Ego menurut pengertian umum yang selama ini kita pahami, yaitu aku atau keakuan. Sehingga orang yang mementingkan keakuannya tanpa melihat waktu, tempat dan kondisi disebut egois.

Nah…apa jadinya saat cinta berbenturan dengan ego ?

Pada dasarnya ego itu menuntut untuk kita puaskan (kita penuhi), jika ego seseorang tersentuh/tersentil atau tercubit bahkan terinjak maka akan muncul reaksi yang kita sebut sebagai mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism). Mekanisme pertahanan diri ini tiap orang berbeda-beda bentuknya bisa represi (menekan) atau penyangkalan.

Semua orang memiliki Ego, baik lelaki maupun perempuan. Sedangkan egoisme bergantung pada individu dalam menyikapi egonya. Meski pria dan wanita sama-sama berpotensi menjadi egois karena sama-sama memiliki ego, namun pandangan umum menyebut bahwa laki-laki lebih egois. Tidak adil? Emang…. :p

Laki dan Perempuan: Lebih Egois Siapa ?

Tapi ada penjelasannya koq….kita semua tahu wanita adalah makhluk perasa (emosional) sedang laki-laki adalah makhluk pemikir (logis). Saat terjadi kesalahpahaman biasanya perempuan akan mengedepankan sisi emosionalnya…perempuan akan merasa tidak kita hargai, harus selalu mengalah dan jadi ‘korban’. Nah saat emosi seperti itu, justru sisi “logis” perempuan akan muncul, dia akan menjadi sosok yang “penuh perhitungan”. Dia akan menghitung: selama ini aku tidak pernah menuntut macam-macam, aku selalu mengalah, dan sebagainya. Iya. Semua yang pernah dia lakukan akan muncul dan jadi bahan perhitungan.

Merupakan hal yang wajar setiap orang ingin kita hargai, mendapat pemahaman, dan kita dengarkan. Semua hal tersebut ada pada Pria maupun Wanita. Jadi, bisa kita katakan bahwa Pria dan Wanita adalah dua makhluk yang sama – sama berpotensi menjadi egois. Akan tetapi cara mereka mengeluarkan ke-ego-annya dan kadarnya itulah yang berbeda. Jujur…lelaki kadar egonya lebih tinggi dan seringkali mengeluarkan egonya pada saat yang tidak tepat yang pada akhirnya membawa penyesalan. Kenapa bisa ? Mayoritas masyarakat kita masih menganut budaya patriarki, sebuah sistem sosial yang menempatkan lelaki sebagai otoritas utama dalam hubungan sosial. Namun sadar atau tidak, hal ini seringkali terbawa dalam hubungan personal, bahkan dalam hubungan intim individu antara pria dan wanita. Pria merasa lebih tinggi, lebih memiliki otoritas. Karenanya, ketika cinta (sebuah hubungan) berbenturan dengan ego, biasanya lelaki jarang yang mau menurunkan egonya.  Walaupun, pria juga sadar sebuah hubungan yang sehat, selayaknya berdiri atas dasar kesetaraan kedudukan. Namun ‘pandangan’ umum bahwa laki-laki harus ‘di atas’ wanita menyilaukan lelaki untuk melihat bahwa ada kebenaran dalam setiap argumen pasangannya.  Apalagi jika lelaki ada keengganan untuk mendengar. Good luck aja… :p

Pentingnya Kemampuan Mendengar

Kemampuan mendengar menjadi hal penting untuk ‘menaik turunkan’ ego, seringkali permasalahan menjadi makin suram karena kita enggan untuk mendengar…dan ini sebenarnya juga termasuk ego! Yups. Ego manusia itu termasuk keinginan untuk selalu di dengar, di hargai, di hormati.  Padahal dengan mendengar setidaknya separuh persoalan sudah berkurang, sebab seringkali pasangan kita hanya butuh untuk kita kuatkan, hanya butuh kita dengarkan. Sayang sekali tak semua orang memiliki ‘telinga’ yang sanggup untuk mendengarkan pasangannya. Dan mau mengakui atau tidak lelaki memiliki telinga yang lebih ‘tipis’ dari perempuan. Jadi para lelaki biasanya jarang memiliki kemampuan mendengar yang baik, terutama jika menyangkut kritikan yang tertuju kepadanya.

Sebagai lelaki, saya mengakui koq…telingaku tipis untuk mendengar kritikan  tapi bukan berarti tidak bisa dikritik. Lelaki tetap mau dan bisa di kritik selama ego-nya tidak jatuh. Nah balik lagi ke soal ego kan?   😀   Emang harus kita akui, soal naik dan nurunin ego perempuan lebih jago. Contoh: lelaki akan sulit dikritik secara langsung, misalnya: Mas, jangan nge-Twit yang jorok dong. Lelaki akan lebih bisa menerima jika ada prolog dengan kata misalnya: mas, aku boleh omong sesuatu? Baru kemudian kita sampaikan:  mas jangan ngetwit jorok dong….

Tujuannya sama, tapi cara yang kedua lebih mengena. Lelaki memang suka di puja dan di manja oleh pasangannya. Sehingga ada ungkapan Lelaki tak pernah bisa jadi dewasa selamanya.

Girls, begitulah cara kami takluk. Dipuja dan dimanja alias di elus egonya, dibuat nyaman. Karena lelaki itu sesungguhnya rapuh namun bersembunyi melalui sikapnya yang angkuh. (duuh….ini sebenarnya rahasia ! ).

Ketika cinta dan ego berbenturan, di situlah kemauan menaik turunkan ego diuji. Nurunin ego itu bukan soal yang mudah loh…namun kembali lagi, seberapa berharganya cinta, sebesar itu pula perjuangannya untuk mempertahankan. Dan modal utamanya adalah, kemauan untuk mendengarkan.

BACA JUGA: KENAPA LAKI LAKI DAN PEREMPUAN “SELALU” BERBEDA ?

By budiwe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *