KNOW YOUR WORTH

P_20180302_123009_vHDR_On

Seorang ayah sebelum dia meninggal berkata kepada putranya, “Ini adalah arloji yang diberikan kakekmu kepada saya, dan usianya lebih dari 200 tahun. Tetapi sebelum kuberikan padamu, pergilah ke toko arloji di jalan Besar itu, dan katakan padanya saya ingin menjualnya, dan lihat berapa banyak yang ia tawarkan kepadamu untuk Arloji ini ”.
Dia pergi, dan kemudian kembali ke ayahnya, dan berkata, “pembuat jam menawarkan 50 ribu karena sudah tua”.

Sang Ayah berkata kepadanya: “pergi ke kedai kopi”.

Si Anakpun pergi dan kemudian kembali, dan berkata: “Dia menawarkan 50 ribu juga, Ayah”.

 “Pergilah  ke museum dan tunjukkan jam itu”.
Diapun pergi kemudian kembali, dan berkata kepada ayahnya, “Mereka menawar satu  milyar rupiah untuk harga jam ini”.

Sang ayah berkata, “Nak, ayah ingin memberi tahumu bahwa tempat yang tepat akan menghargaimu dengan cara yang benar.”

Jangan menempatkan dirimu di tempat yang salah, kemudian marah karena merasa tidak dihargai.

Mereka yang mengetahui nilaimu adalah mereka yang menghargaimu, JANGAN PERNAH tinggal di tempat di mana tidak ada seorangpun yang mampu melihat nilaimu.

Ketahui nilaimu. Know Your Worth.

Anak adalah Peniru Ulung

Anak adalah peniru ulung. Sebaik baik mendidik adalah dengan menjadi teladan.

Anak merupakan peniru ulung. Mereka akan menirukan hal-hal yang menarik perhatian dan rasa penasarannya. Maka tak heran jika banyak orang berkata, bila Anda ingin melihat dan mengetahui bagaimana sifat Anda maka lihatlah anak Anda. Lisa Nalven, M.D., dokter anak specialisasi perkembangan dan perilaku anak di the Valley Center for Child Development, Ridgewood, New Jersey mengungkapkan bahwa “kegiatan meniru adalah kegiatan yang sangat penting dalam tahap perkembangan kemampuan bahasa dan sosialisasi buah hati Anda”.

Perlu Anda ketahui bahwa kegiatan meniru buah hati Anda ini biasanya mulai terjadi pada saat usia anak Anda menginjak 1 tahun. Pada usia ini anak Anda memasuki tahun-tahun penting dalam tahap tumbuh kembangnya. Mereka akan menyerap segala nilai-nilai atau kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di rumah dan lingkungan sekitarnya. Maka dari itu Anda, sebagai orangtua harus bisa menanamkan nilai-nilai baik bagi buah hati Anda.

Daniel B. Kessler, M.D., direktur ikatan dokter anak spesialisasi perkembangan dan perilaku anak di Children’s Health Center of St. Joseph’s Hospital, Phoenix berkata “anak-anak biasanya akan mengamati dan mencermati informasi yang mereka lihat atau dapatkan sebelum mereka menirunya. Di usia 1 tahun, anak biasanya meniru apa yang mereka lihat dan dengar”.

Dari hal tersebut bisa kita simpulakan, bahwa Anda sebagai orangtua haruslah bisa menjadi contoh yang baik bagi anak Anda, karena hanya dengan bantuan Anda lah karakter dan kepribadian anak Anda bisa dibangun. Berikut ini tips yang bisa Anda ikuti agar kegiatan meniru si kecil bisa berpengaruh baik pada pribadinya

(sayangianak.com)

Anak berbuat #Mesum dan #Porno? Ah biasa aja…

seragam-sma seksi

Dunia pendidikan akhir-akhir ini digoncangkan oleh fenomena yang tidak menggembirakan. Pemberitaan di televisipun menyuguhkan tayangan tentang tindakan amoral siswa, seperti vandalism siswa, pemerkosaan yang korban dan pelakunya siswa sekolah, pencurian,perampokan ,geng motor yang berakhir dengan perkelahian dengan senjata tajam. Belum lagi kasus video porno yang ternyata 90% pelaku dan pembuatnya adalah siswa remaja. Berdasarkan hasil penelitian Synovate Researchtentang perilakuseksual remaja di 4 kota dengan 450 responden, yaitu Jakarta, Bandung,Surabaya dan Medan. 44% responden mengaku merekasudah pernah punya pengalaman seks di usia 16 sampai 18 tahun. Sementara 16% lainnya mengaku pengalaman seks itu sudah mereka dapat antarausia 13 sampai 15 tahun(www.situs.deskespro.info)

Banyak pihak yang menanggapi fenomena diatas. Kritik terhadap sistem pendidikan dan pembelajaranpun dilayangkan. Pendidikan kita dinilai terlalu menonjolkan sisi kognisi tetapi minus emosi dan moral. Sebagian bahkan menilai pendidian Indonesia terkesan mekanistik, fullhafalan dan mematikan kreativitas siswa. Kondisi ini tentu mencemaskan berbagai fihak, apalagi melihat dari pendapat Thomas Lickona(1992) bahwa terdapat sepuluh tanda perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa,yaitu (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja; (2) ketidakjujuran yang membudaya; (3) semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru dan figure pemimpin; (4) pengaruh peer group terhadap tindakan kekerasan; (5) meningkatnya kecurigaan dan kebencian; (6) penggunaan bahasa yang buruk; (7) penurunan etos kerja; (8) menurunnya rasa tanggung jawab individu dan warga Negara; (9) meningkatnya perilaku merusak diri; (10) semakin kaburnya pedoman moral. Pemerhati dan pelaku pendidikan telah mencoba membenahi sistem pendidikan dan kurikulum dengan menawarkan berbagai solusi. Salah satunya dengan pendidikan berbasis karakter. Pendidikan karakter di dalam kurikulum sekolah dengan lingkungan pembelajaran yang kondusif menjadikan kekuatan yang harus diberikan

kepada siswa mulai,khususnya siswa sekolah menengah sebagai wadah pembentukan perilaku. Hal ini sejalan dengan pemikiran Campbell(2005) bahwa pengaruh- pengaruh lingkungan dipandang relevan dalam pembentukan perilaku siswa. Dan lingkungan sekolah, menurut penelitian Izzaty (2005) menjelaskan bahwa prediktor yang berasal dari lingkungan sekolah yang terbukti berkorelasi secara signifikan, berhubungan langsung dan memberikan sumbangan sebesar 21,45% terhadap tingkah laku bermasalah.

Bagaimanapun juga sekolah mempunyai peranan dalam mengembangkan kepribadian individu, Hurlock (Yusuf, 2007) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak (siswa) baik dalam berfikir, bersikap maupun berperilaku. Sekolah sebagai tempat kedua dan substitusi keluarga dan guru substitusi orang tua. Menurut Havighurst (Yusuf, 2007), sekolah mempunyai peranan atau tanggung jawab dalam membantu para siswa mencapai tugas perkembangannya. Oleh karena itu dibutuhkan sekolah yang mempunyai kondisi yang kondusif, suatu kondisi yang dapat memfasilitasi siswa untuk mencapai tugas perkembangan. Fenomena yang terjadi di atas merupakan gambaranprofil individu yang mempunyai karakter yang tidak diharapkan. Sebelumnya, ada pertanyaan, sebenarnya, apakah karakter itu? Bagaimana pendidikan berkarakter itu? Bagaimana aplikasinya di lapangan?

Nah…anda para pendidik sebenarnya tak perlu bingung dan risau dengan segala teori tentang maupun aplikasi pendidikan karakter itu di lapangan. Kami telah menjadikannya lebih mudah untuk anda, kami sudah berpengalaman dalam memberikan pendampingan Psikologis pada siswa.

Check kami di sini: Pelatihan Pendidikan Karakter

Kenali siswamu, kenali kebutuhannya dan jadikan sekolah dan rumah sebagai tempat yang nyaman untuk mereka.

Kiat untuk memahami karakter anak, bisa didapatkan dibanyak buku dan kelas parenting. Namun satu hal yang harus dipahami, bahwa anak adalah cermin orangtua. Anak kita mengenalkan siapa kita sesungguhnya. Kiat dan tips ada disini.