SADIS! Ayah Menolak Anak Kandungnya Sendiri.

Dalam kehidupan sering kita temui beberapa orang yang terlalu bersikukuh dengan pendapatnya, dia menganggap cara berpikirnya yang paling benar, dan memberi stempel salah kepada apapun yang berbeda dari sesuatu yang dianggapnya benar, sehingga dia tertutup dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan. Kisah ini mungkin akan membantunya menjadi lebih terbuka pikirannya, ketika kita kisahkan kepadanya.

Ada seorang pedagang yang hidup dengan anak laki-laki semata wayangnya, karena istrinya baru saja meninggal.

Sepeninggal istrinya, dia mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada anaknya. Suatu ketika pedagang tersebut pergi ke luar kota untuk berdagang, anaknya ditinggal di rumah.

Ketika itulah Sekawanan bandit datang merampok desa tempat tinggal mereka. Para penjarah ini merampok habis harta benda, membakar rumah-rumah, dan bahkan menghabisi hidup penduduk yang mencoba melawan; rumah sang pedagang pun tak luput dari sasaran. Mereka bahkan menculik anak laki-laki sang pedagang untuk dijadikan budak.

Betapa terperanjatnya sang pedagang ketika ia pulang dan mendapati rumahnya sudah jadi tumpukan arang. Dengan gundah hati, ia mencari-cari anak tunggalnya yang hilang. Ia menjadi frustrasi ketika mendapati banyak tetangganya yang terbantai dan mati terbakar. Di tengah kepedihan dan keputusasaan, ia menemukan seonggok belulang dan abu di sekitar rumahnya, di dekat tumpukan abu itu tergolek boneka kayu kesayangan anaknya. Yakinlah sudah ia bahwa itu adalah abu jasad anaknya. Meledaklah raung tangisnya. ia menggelepar-gelepar di tanah sembari meraupi abu jasad itu ke wajahnya. Satu-satunya sumber kebahagiaan hidupnya telah terenggut..

Musim berlalu. sang anak akhirnya berhasil meloloskan diri dari cengkeraman para penculiknya. Ia bergegas pulang ke kampung halamannya. Sesampai di kediaman ayahnya, ia mengetuk pintu rumah sembari berteriak senang, “Ayah, ini aku pulang!”. Sang ayah yang waktu itu lagi tertidur di ranjangnya, terbangun mendengar suara itu. Ia berpikir, “Ini pasti ulah anak-anak nakal yang suka meledekku itu!” “Pergi! Jangan main-main!” Mendengar sahutan itu, sang anak kembali berteriak, “Ayah! Ini aku, anakmu! Dari dalam rumah terdengar lagi, “Jangan ganggu aku terus! Pergi kamu!” Sang anak menggedor pintu dan berteriak lebih lantang, “Buka pintu ayah! Ini betul anakmu!”

Sang ayah terus bersikeras tidak membuka pintu. Sang anak pun akhirnya putus asa dan berlalu dari rumah itu..dengan hati pedih.

Kawans, Sebagian orang begitu erat memegang apa yang mereka ‘ANGGAP’ sebagai kebenaran. Namun ketika Kebenaran Sejati betul-betul datang, belum tentu mereka membuka pintu hati mereka.