Categories
Kisah Inspiratif

Raport dan Ibuku

IMG-20140331-WA0000

Sejak aku SD, ibulah yang selalu mengambil raporku di sekolah. Dan aku selalu bergembira, bukan karena nilaiku di SD selalu bagus atau aku selalu juara di sekolah, namun karena apapun pencapaianku ibuku tak pernah marah. Waktu SD, ibu biasa berjalan kaki 3 KM dari rumah menuju SD Inpres tempatku sekolah. Saat aku SMP ibu tak lagi bisa berjalan kaki seperti kebiasaan selama 6 tahun itu. Bukan karena manja atau apa, namun jarak rumah dengan SMP tempat aku sekolah waktu itu lebih dari 12 KM, dan aku biasa menempuhnya dengan sepeda. Kebiasaan ibuku saat mengambil rapor tak pernah berubah. Selalu tersenyum pada wali kelasku dan selalu mengucap terima kasih pada Guru kelasku itu.

“Terima kasih ya Pak, Bu sudah mengajari Budi anak saya. Titip anak saya supaya pintar tidak seperti ibunya” kata ibuku dalam bahasa Jawa Halus (Kromo Inggil).

Kata-kata itu bagai mantra yang membuat seisi kelas tertawa. Ya teman-temanku dan beberapa orangtuanya mentertawakan keluguan ibuku. Ah…kalianpun pasti akan tertawa jika mendengarnya. Awalnya aku malu dan tak mau lagi raporku di ambil ibu, namun aku hanya punya ibu dan hanya ibulah satu-satunya orang yang bisa ‘disuruh-suruh’. Bapakku kerja diluar kota, tak pernah bisa meluangkan waktu untuk sekedar mengambil raporku. Maklum hanya buruh kecil di pabrik. Mau tak mau aku harus menahan malu hingga 3 tahun kedepan, hingga aku lulus SMP. Namun rupanya, kebiasaan ibuku justru mendekatkanku dengan Guru kelasku. Tak jarang Guru kelasku sedikit memberi perhatian lebih kepadaku, dan lama-lama tak ada lagi tawa bernada menghina dari teman-temanku. Kebiasaan ibuku yang lainnya saat mengambil rapor adalah ibuku tidak akan pernah bicara hasil rapor saat disekolah walaupun ditanya oleh orangtua ataupun Guru yang lain. Ibuku selalu menjawab, “Alhamdulillah rapornya sudah saya ambil ini hasil terbaik anak lanang (anak lelaki) saya”

Namun sesampainya di rumah, ibu akan “presentasi” perolehan raporku. Baik ataupun buruk, ibu tetap akan presentasi dan tugasku adalah diam, mendengarkan dan mengamini rekomendasi yang dihasilkan dari presentasi ibuku itu.

Kebiasaan – kebiasaan ibuku itu tetap dibawa hingga aku SMA, dan sepertinya itu telah menjadi SOP ibuku dalam mengambil rapor. Saat kuliah ibuku tak lagi mengambilkan “rapor” untukku, hasil studi dikirim langsung dari bagian akademik kampus ke rumahku melalui jasa Pos. Rasanya sudah sangat lama sekali aku merindukan saat-saat seperti itu. Saat sudah bekerjapun aku seringkali merindukan ‘raporku’ diambil oleh ibuku. Rapor yang menceritakan perjalanan hidupku. Seperti saat sekarang ini, saat aku mengantri membagi rapor untuk siswa-siswaku. Aku membayangkan ibuku sedang mengantri rapor untukku. Kemudian ibuku menerima raporku, mengucapkan terima kasih pada Guru kelasku, dan memberi isyarat kepadaku untuk mengikuti beliau pulang.

Sesampainya di rumah, ibuku memulai presentasi. Ternyata aku mendapat nilai merah untuk pelajaran melupakan. Tapi ibu tak marah, kata beliau: masa lalu itu bukan untuk dilupakan atau dihapus dari ingatan, tapi untuk diterima dalam kedamaian. Karena masa lalu itu telah menjadi bagian diri kita yang utuh. Kemudian ibuku menyampaikan rekomendasi yang harus aku lakukan: “Nak, engkau tak bisa mengubah masa lalu. Namun engkau bisa mengubah masa depan. Jangan menyesali masa lalu dan mencemaskan masa depan sehingga kita lalai mensyukuri anugerah hari ini. Pikirkan saja apa yang BAIK, kemudian lakukan yang TERBAIK dan serahkan pada Yang Maha BAIK, maka segalanya akan BAIK-BAIK saja.”

Nasihat yang selalu menghangatkan. Bersamamu, Ibu. Aku tak butuh lagi matahari.

Categories
Kisah Inspiratif

Membangun Team Solid dengan Mengenali Karakter Anggota Team.

DSC00658

Beberapa kali saya diminta oleh instansi instansi untuk memberikan training di internal mereka, namun beberapa kali pula saya ‘terpaksa’ menolak karena jadwal yang tidak sesuai. Biasanya saya akan menolak training yang meminta diwaktu efektif kerja dengan durasi lebih dari 2 hari.

Namun, jika sesuai dengan jadwal waktu saya pasti akan saya layani dengan sebaiknya, seperti salah satu instansi di kota Solo yang meminta saya memberikan training bagaimana membangun sebuah team solid. Berbekal latar belakang psikologi dan alumni sebuah provider training terkemuka, saya meramu materi melalui psikotes dan ilmu manajemen serta leadership yang pernah saya dapatkan. Materi yang saya bawakan adalah bagaimana membangun team yang solid melalui mengenali karakter anggota team. Membangun sebuah team yang solid, harus memperhatikan 6 hal penting dalam sebuah team, yaitu :

  1. Pertegas Tujuan (memahami visi misi organisasi, kenapa ada disini, apa tugasnya ?)
  2. Pahami WOW dan Rule of Game
  3. Sense of Belonging
  4. Kompetensi Merata
  5. Komunikasi Efektif

Nah…kali ini saya akan kupas, bagaimana berkomunikasi secara efektif melalui pengenalan terhadap karakter anggota team.

Materi saya sajikan melalui mini workshop, dengan mengambil pendekatan utama melalui DISC Personality Types.

DSC00665

DISC membagi 4 jenis karakter; DominanceinfluenceSteadyness, dan Conscientiousness. Masing-masing kepribadian digolongkan dalam karakter yang aktif/pasif, dan orientasinya kepada pekerjaan/sosial.

Kenapa mesti melalui DISC ?

Psikologi adalah ilmu perilaku, hanya bisa “bekerja” melalui perilaku yang nampak, DISC adalah salah satu cara untuk menampakkan perilaku sehingga bisa dilakukan analisis lebih jauh.

Apa yang bisa didapat melalui tes DiSC?

  • Meningkatkan pengetahuan diri sendiri; bagaimana Anda menanggapi konflik, apa yang dapat memotivasi Anda, apa yang menyebabkan Anda stres, dan bagaimana Anda memecahkan masalah
  • Memfasilitasi kerja tim yang lebih baik, dan meminimalkan konflik di dalam tim
  • Mengelola lebih efektif dengan memahami disposisi dan prioritas anggota tim
  • Menjadi pribadi yang lebih berpengetahuan, menjadi pemimpin yang efektif dan efisien

Tujuan tes DiSC

  • Membangun tim yang produktif
  • Mengembangkan pemimpin maupun manajer yang efektif
  • Melatih tenaga penjualan yang kuat
  • Meningkatkan layanan pelanggan
  • Manajemen konflik
  • Membantu dalam perekrutan, penempatan, promosi, maupun outsourcing
  • Meningkatkan pengalaman konseling atau pembinaan.

 

DSC00680

Secara singkat, tes DISC dapat dijelaskan sebagai berikut :

 

 

Categories
Kisah Inspiratif

Jangan Kalah dari Lebah!

Selamat Pagi…
Jangan Kalah dari Lebah!
Hanya mau singgah di tempat yang indah.
bekerja tanpa kenal lelah, demi mencari berkah.

 

Categories
Kisah Inspiratif

Kitalah Pengemis Itu.

 

DSC00299

Seperti sudah menjadi kebiasaan rutin, aku selalu menaruh koin-koin di mobilku. Siang itu, sebelum aku jalan aku cek apakah masih cukup persediaan koin hingga bolak-balik pergi pulang. Setelah memastikan cukup, barulah aku jalan. Tak terhitung berapa lampu merah yang kulewati dan berapa koin yang telah berpindah tangan. Hingga di lampu merah yang ke sekian kali, dari jauh kulihat seorang bapak tua sudah menyambutku dengan anggukan kepala, kemudian mendekat dan memainkan untaian tutup botol. Kuulurkan sekeping koin dan bapak tua itu menerimanya dengan senyum, kemudian jutaan doa terlontar dari bibirnya. Sejenak aku terdiam, tercekat tanpa kata dan tanpa sadar tanganku merogoh saku mengulurkan semua yang tersisa yang ada disana. Senyum bapak tua semakin mengembang dan akupun ikut tersenyum, tak lama lampu hijau memaksaku berlalu. Rasanyabahagia menyaksiakn bapak tua itu bersuka cita dengan pemberian kita.

Sepanjang jalan, kurenungi. Seandainya kita adalah pengemis yang meminta belas kasih pada Yang Maha Kaya, akankah kita mampu bersikap seperti bapak tua ? diberi rizqi ‘hanya’ sekeping koin tetap bersyukur bahkan memberi ‘bonus’ doa yang tulus.. apalagi jika diberikan rizqi yang banyak , senyum akan makin mengembang.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS: Ibrahim:7)

dan bapak tua itu telah membuktikannya, dengan membuatku ‘terhipnotis’ untuk merogoh saku dan mengeluarkan semua yang ada disana. Kesyukuran, senyum dan lontaran doa-doa bapak tua itulah yang ‘menghipnotisku’ dan aku bahagia karenanya. Andai bapak tua itu, bermuka kecut karena ‘hanya’ menerima sekeping koin, atau justru malah mengumpat tentulah aku tak sudi untuk merogoh saku lagi, bahkan bukan tidak mungkin aku akan balas mengumpat dengan lebih pedas : “dasar pengemis tak tahu diuntung ! diberi malah mengumpat !!”

Ah..bapak tua, engkau menyadarkanku bahwa sesungguhnya akulah pengemis itu, kitalah pengemis di hadapan Yang Maha Kaya. Sekecil apapun pemberian-Nya, tentulah Dia akan tersenyum manakala kita terima pemberian-Nya dengan senyum kesyukuran. Sebab sesungguhnya kebahagiaan tidak pernah menghampiri pada mereka yang gagal menghargai apa yang telah mereka miliki.

Sudahkah kita berbagi hari ini ?