Cara Mengatasi Rasa Kesepian

Survei dari Into The Light sebuah komunitas yang punya misi utama untuk mencegah bunuh diri remaja di Indonesia.  Menunjukkan hasil menyedihkan bahwa 98% Partisipan dengan kelompok usia 18-34 tahun mengalami rasa kesepian.

Kita hidup di masa kelebihan penduduk di satu sisi dan rasa kesepian yang ekstrem di sisi lain. Kita sering berkerumun, berkelompok namun tetap masih merasa sendirian.. Tingkat kesepian nasional kita sesuai survey into the light tersebut sangat mengejutkanHasil survey ini menunjukkan bahwa kesepian saat ini merupakan krisis kesehatan mental masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa kesepian bisa lebih buruk bagi kesehatan kita daripada merokok , obesitas, dan tekanan darah tinggi. IKesepian ini dapat menyebabkan depresi , kecemasan, dan kematian dini akibat bunuh diri.  Di masa segala begitu mdah terhubung dengan teknologi, bagaimana ini bisa terjadi? Dan apa yang bisa kita lakukan?

Kita memiliki kebutuhan yang mendalam untuk hubungan sosial dan anehnya kita  sering menderita ketika kesepian, seperti penjelasan dari pakar kesepian John Cacioppo dalam bukunya, Loneliness . Namun, kabar baiknya adalah ada beberapa hal hebat yang dapat kita lakukan untuk merasa lebih terhubung di mana pun kita berada, sehingga meminimalisir rasa kesepian.

Rasa Kesepian Adalah Keadaan Pikiran

Rasa  Kesepian, seperti emosi lainnya, adalah keadaan pikiran, ini artinya kita kita dapat terlepas dari keadaan sebenarnya. Penelitian menunjukkan bahwa bukan berapa banyak teman yang Anda miliki yang menentukan tingkat kesepian Anda. Ini adalah bagaimana Anda merasa terhubung di dalam sebuah hubungan (pertemanan). Itulah mengapa Anda dapat merasa kesepian dan terputus di ruangan yang penuh dengan teman atau keluarga, namun mengalami rasa memiliki total di ruangan yang penuh dengan orang asing (misalnya, audiensi di lokakarya atau seminar). Dan ini adalah kabar baik. Tidak peduli di mana Anda berada atau berapa banyak teman yang Anda miliki atau tidak, Anda selalu dapat mengatasi keadaan pikiran Anda.

Menariknya adalah penelitian juga menunjukkan bahwa emosi seperti kecemasan dan depresi terkait dengan kecenderungan untuk fokus pada diri kita sendiri. Anda mungkin memperhatikan bahwa ketika Anda stres , Anda cenderung tidak terlibat dalam percakapan dengan seseorang yang baru. Sebaliknya, ketika Anda merasa lebih optimis dan lebih positif, penelitian menunjukkan bahwa perhatian Anda lebih luas. Anda lebih cenderung memperhatikan orang lain da nada perasaan terhubung. 

Bagaimana Cara Untuk Mengatasi Rasa Kesepian ?

Setidaknya terdapat 3 (tiga) hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rasa kesepian:

  1. Perawatan diri
    Kita mungkin merasa kesepian, karena kita tidak menjaga dan merawat diri kita sendiri. Entah karena kekurangan waktu, energi, minat, atau hanya karena kita tidak menganggap diri kita cukup penting. Kedengarannya memang remeh, tapi cobalah. Anda akan melihat bagaimana proses keterlibatan yang kuat dalam beberapa tindakan perawatan diri dapat membantu Anda merasa lebih di cintai dan terhubung. Sekali lagi, perawatan diri sifatnya personal dan tergantung pada apa yang menurut Anda sangat bermanfaat bagi jiwa anda . Ini adalah tindakan cinta untuk diri sendiri yang bermanfaat bagi Anda secara fisik, emosional, atau spiritual. Anda bisa mandi spa, jalan-jalan, meditasi , merapikan rumah, membaca, dan sebagainya. Anda tahu yang lebih baik daripada orang lain tentang apa yang anda perlukan untuk membuat Anda merasa lebih baik. Buku Self-Compassion karya Krisin Neff dan buku Sharon Salzberg Real Love memberikan petunjuk praktis berdasar bukti ilmiah tentang Perawatan Diri ini.

2. Kembali ke “habitat Suku Anda”

Rasa kesepian juga mudah muncul ketika Anda menemukan diri Anda berada di antara orang-orang yang tidak memiliki nilai atau gaya hidup yang sama dengan Anda. Anda merasa terasing di tengah keramaian. Anda merasa ada yang salah dalam diri anda. Hingga akhirnya anda bertemu seseorang seperti anda. Memiliki nilai, pandangan, dan gaya hidup yang sama dengan anda.Pada saat itulah Anda menyadari bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan Anda. Anda hanya belum menemukan orang-orang yang satu frekuensi dengan Anda. Anda belum bertemu “habitat suku” Anda. Suku kebanyakan orang adalah teman yang mereka buat seumur hidup; bagi sebagian orang , suku adalah komunitas spiritual atau keluarga yang mereka bangun. Jika Anda belum menemukannya, teruslah mencari, karena ada di luar sana. Terlepas dari gaya hidup kita yang sibuk dan terputus secara sosial, Internet telah membuatnya lebih mudah dari sebelumnya untuk terhubung dengan orang lain yang memiliki pandangan dan preferensi yang sama.

3. Berbagi Kasih sayang
Pada titik tertentu Anda mungkin menyadari bahwa semua manusia, apakah mereka termasuk dalam suku Anda atau bukan, memiliki kebutuhan mendalam yang sama akan hubungan sosial dan cinta. Cara mendalam untuk meningkatkan hubungan sosial adalah melalui belas kasih dan altruisme. Welas asih (compassion) terhadap orang lain (dan diimbangi dengan perawatan diri) adalah salah satu sumber kebahagiaan terbesar yang ada. Itu tidak hanya mengarah pada kesejahteraan fisik dan emosional saja. Namun juga meningkatkan peluang kita untuk hidup lebih lama. Penelitian oleh Psikolog Ed Diener dan Martin Seligman menunjukkan bahwa altruisme mengarah pada kesehatan mental dan fisik yang lebih baik dan mempercepat pemulihan dari penyakit. Penggambarannya seperti Balon Kebahagiaan.

Dengan kata lain, gaya hidup berorientasi melayani akan melindungi Anda dari stres, dan perasaan stres yang berkurang akan membantu Anda terhubung dengan orang lain sehingga bisa mengatasi rasa kesepian. Jadi welas asih (compassion) bisa menjadi penangkal kesepian. Dan itu harus berawal dari diri Anda sendiri.

By budiwe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!