#PiknikMurah 1

cbbb
BAHAGIA

Sudah setahun terakhir saya berusaha ngajak piknik murah ke teman-teman saya. Saya berikan ittinerary kegiatan dan gambaran apa saja yang bisa dilakukan dalam kegiatan piknik murah itu. Contohnya seperti yang saya lakukan pada keponakan saya ini. Saya ajak mereka piknik ke Rumah Sakit. Ya, benar. Piknik ke Rumah Sakit.
Di dekat rumah ibu saya, ada RS Dr Oen Solobaru. RS yang memiliki tema dan konsep: Teduh untuk Sembuh. RS ini banyak tanaman, burung burung. Ada juga ayunan.
Nah…piknik dimulai dari saat masuk di tempat parkir, kenalkan anak pada profesi tukang parkir. Apa saja tugasnya? Kenapa harus ada tukang parkir? Dan seterusnya…. saat masuk ke dalam RS bertemu dengan profesi lain, misalnya Satpam lakukan hal yang sama. Bisa ditambahkan (modifikasi) dengan melatih anak berkomunikasi dengan orang lain (Satpam) dengan meminta anak untuk bertanya: lokasi ATM dimana? Bangsal bayi dimana? Dan seterusnya… Setelah masuk ke dalam bangsal kenalkan anak dengan profesi-profesi lain: dokter, perawat, ahli Gizi, Cleaning Service dan sebagainya.
Selesai berkeliling, bawa anak ke taman (tempat ayunan atau teman lain yang nyaman buat anak) ajak diskusi: profesi apa yang paling penting? Profesi apa yang paling berkesan bagi anak?
Melalui piknik murah ini, salah satu manfaat yang saya rasakan adalah keponakan saya menjadi menghargai setiap profesi dan berujung pada menghargai setiap karya orang lain.

Anak ibu sangat pemalu ? Bisa jadi itu SM!

Pagi ini dibuka dgn diskusi mengenai penyesuaian diri dan sosialisasi anak di sekolah barunya (toddler/playgroup).
Dan sy kebagian cerita pengalaman menangani #SM. Apa itu #SM ? #SM adalah Selective Mutism. Gejala anak menarik diri dr lingkungan dengan diam. Apakah Anda melihat ada seorang anak yang berbicara dengan bebas di rumah, namun menjadi “bisu” dan diam dalam pergaulan lain seperti di sekolah atau di depan umum ? dan anak ini biasanya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bersosialisasi di lingkungan barunya ? Nah..bisa jadi itulah gejala #SM.
Gejala #SM mirip dengan anak pemalu dan anak autis, sehingga terkadang masyarakat sering menganggapnya sebagai gejala awal autis. Namun kadang masyarakat justru abai dgn gejala #SM karena menganggapnya sebagai perilaku anak yang pemalu. Bisa dimaklumi karena gejalanya sama, yaitu anak menarik diri dlm kondisi keramaian tak mau bicara dgn siapapun.
Bedanya, pada anak autis memang tidak terjadi kontak sosial, tidak ada koneksi rencana gerak dan bicara. Sedang pada anak #SM bisa mengenali lingkungan. Anak #SM juga terkonek dengan lingkungannya dan tidak ada gangguan bicara. Hanya saja ia tidak mau bicara. Nah, kalo pada anak pemalu kadang mereka hanya tak mau bicara pada org dewasa saja dan msh mau bicara dengan yang sebaya. Kalo anak #SM sama sekali tidak mau. Kalo pada anak pemalu, kadang 2-3 minggu akan mulai bisa interaksi. Anak #SM bisa berbulan bulan TIDAK berbunyi. Penyebab #SM adlh gejala kecemasan yg berlebihan (anxiety disoder) dan BIASAnya ortu / anggota keluarga yang lain ada juga yang mengalami gangguan.
Deteksi dini #SM bisa dilihat saat anak seharusnya lancar bicara (usia 3 th). Jelasnya saat interaksi dengan lingkungan lebih besar (playgroup). Di lingkungan baru yang lebih besar, pengidap #SM merasakan tidak nyaman sehingga timbul rasa cemas yang berlebihan. Pola asuh over protective bisa juga menjadi pemicu ketidaknyamanan ini. Anak #SM merasa cemas dan takut lantaran tidak mendapat perlakuan seperti di rumah. Tindakan yang bisa dilakukan untuk pengidap #SM adalah dengan Modifikasi Prilaku (tidak asing kan dgn istilah ini? 😀 ) Slh satu metode ModPri, misal: tahap awal anak boleh tak bicara, tapi harus ada respon non verbal (menggeleng, menunjuk, mgangguk dsb). Kemudian ditingkatkan harus bicara dgn berbisik, kemudian ditingkatkan untuk menambah Volume suara dst. Sampai bisa bicara normal.
Saat proses ModPri tadi, anak #SM harus sering-sering dipeluk, disapa, ditanya, diperhatikan penuh. Agar mendapat kenyamanan.
PENTING: Yg dikejar dlm proses terapi ModPri bukan sekedar anak berani bicara, namun bagaimana anak mendapatkan KENYAMANAN. Setelah anak berani bicara, biasakan anak untuk bercerita tentang apa saja. Untuk kasus tertentu kadang diperlukan bantuan obat untuk mengurangi depresi (kecemasan), namun ini adlh jalan terakhir. Hal terpenting adalah pendampingan Ortu dan dukungan lingkungan agar anak tetap nyaman & merasa terlindungi. Sekian.

Diambil dari : http://chirpstory.com/li/139884 oleh @budiwee